Senin, 01 Oktober 2012

WAJAH TEDUH SINGA AGAMA

-->


Minggu itu, berkobar tinggi panaskan bumi
Janji-Nya penuhi langkah perjuangan
Antara gemuruh takbir dan laknat bagi penghina teladan umat

Inilah wajah-wajah teduh singa agama
Meraungkan cinta layak syuhada yang darahnya siap tumpah
Diantara boneka berseragam dan kawat-kawat berduri
Lantangkan keagungan Ilahi dengan damai nan rapi

Kamis, 27 September 2012

Karena Ukuran Kita Tak Sama

-->


seperti sepatu yang kita pakai, tiap kaki memiliki ukurannya memaksakan tapal kecil untuk telapak besar akan menyakiti memaksakan sepatu besar untuk tapal kecil merepotkan kaki-kaki yang nyaman dalam sepatunya akan berbaris rapi-rapi

Seorang lelaki tinggi besar berlari-lari di tengah padang. Siang itu, mentari seakan didekatkan hingga sejengkal. Pasir membara, ranting-ranting menyala dalam tiupan angin yang keras dan panas. Dan lelaki itu masih berlari-lari. Lelaki itu menutupi wajah dari pasir yang beterbangan dengan surbannya, mengejar dan menggiring seekor anak unta.

Di padang gembalaan tak jauh darinya, berdiri sebuah dangau pribadi berjendela. Sang pemilik, ’Utsman ibn ‘Affan, sedang beristirahat sambil melantun Al Quran, dengan menyanding air sejuk dan buah-buahan. Ketika melihat lelaki nan berlari-lari itu dan mengenalnya,

“Masya Allah” ’Utsman berseru, ”Bukankah itu Amirul Mukminin?!”

Ya, lelaki tinggi besar itu adalah ‘Umar ibn Al Khaththab.

”Ya Amirul Mukminin!” teriak ‘Utsman sekuat tenaga dari pintu dangaunya,

“Apa yang kau lakukan tengah angin ganas ini? Masuklah kemari!”

Dinding dangau di samping Utsman berderak keras diterpa angin yang deras.

”Seekor unta zakat terpisah dari kawanannya. Aku takut Allah akan menanyakannya padaku. Aku akan menangkapnya. Masuklah hai ‘Utsman!” ’Umar berteriak dari kejauhan. Suaranya bersiponggang menggema memenuhi lembah dan bukit di sekalian padang.

“Masuklah kemari!” seru ‘Utsman,“Akan kusuruh pembantuku menangkapnya untukmu!”.

”Tidak!”, balas ‘Umar, “Masuklah ‘Utsman! Masuklah!”

“Demi Allah, hai Amirul Mukminin, kemarilah, Insya Allah unta itu akan kita dapatkan kembali.“

“Tidak, ini tanggung jawabku. Masuklah engkau hai ‘Utsman, anginnya makin keras, badai pasirnya mengganas!”

Angin makin kencang membawa butiran pasir membara. ‘Utsman pun masuk dan menutup pintu dangaunya. Dia bersandar dibaliknya & bergumam,

Jumat, 21 September 2012

MELEBURNYA SABDA LANGIT


Puisi dibawah ini terlahir dari rahim Pilkada DKI, dimana atmosfir udara kemunafikan amat kental tercium hingga sejagat negeri merasa berhak mencegat naik tahtanya ideologi kafir. Selamat menunaikan ibadah puisi!!!


MELEBURNYA SABDA LANGIT

Kebodohan adalah tarian tolol pembangkangan 
ketika pilihan jelas telah disuguhkan-Nya
ucap-Nya bukan referensi semata
pun senda gurau kaum galau

Ingatkah pesan yang abadi
Janganlah kau mengambil orang yang gelap nurani
sebagai bagian yang titahnya kan kau penuhi
dan sesiapa yang mengikutinya termasuklah dia itu mereka

Rabu, 19 September 2012

CECERAN DARAH DIBULAN BERKAH


Ramadhan 1433 hijriyah,
Catatan-Nya mengagungkan-Nya dalam hela detik yang merah
Kemegahan seribu bulan tak serta jadi ladang toleran
Hak asasi hanya jadi wacana busuk para pendengki
Perbincangan jalan damai malah jadi ajang konspirasi

Rohingya yang basah dengan darah
Saat kita gembira menyambut detik puasa, di sana mereka diancam dan di siksa
Saat kita meributkan awal sahur, di sana mereka ketakutan digempur
Saat kita menikmati buka puasa bersama keluarga,
Disana batin mereka menangisi keluarganya yang baru saja terbunuh
Saat kita mengeluh di siang hari,
Disana mungkin saja mereka sedang berlari sembunyi
Dari peluru-peluru binatang pembersih etnis

KEMENANGAN KITA TERTUNDA


Perjuangan yang telah kita berlelah payah demi tekad mulia ridho-Nya, tidak seharusnya terbayar dengan kelesuan. Bukan jundullah bila lemah, bukan hamba-Nya bila putus asa, bukan ikhwah bila resah pasrah. Semua kan dipergilirkan kawan, kemenangan dan kekalahan pasti adil kita rasakan sebagai tanda Kemahabesaran-Nya.

Pasti perlakuan-Nya adalah sinyal kecintaan-Nya, agar DIA Melihat lebih banyak lagi langkah sabar yang kita lakukan.

Janganlah dulu menyerah, kawan!!!
Kerelaan kita menempuh jalan kesabaran tlah menjadi kobaran ghirah tak bernilai. DIA pasti melihat kerja-kerja n kelelahan demi kelelahan yg kita tumpahkn dalam jalan ini. DIA pasti tahu kapan harus kita dapatkan kemenangan nyata. DIA juga pasti tahu kita tlah berlelah payah tuk sampai pada saat ini, detik kemenangan yg tertunda.

Janganlah dulu menyerah, kawan!!!
Kita tidak seberapa menderita ketimbang saudara-saudara kita dibelahan bumi lain. Mereka kini mungkin sedang disiksa, dibantai keluarganya, dikuliti bahkan dibakar hidup-hidup saat kita merasa jenuh menapaki batas-batas kesabaran perjuangan.

AKHIRNYA HARUS


Akhirnya semua harus berkaca,
Kitalah perwakilan Yang Maha Sempurna namun tak sempurna
Sekedar belajar melengkapi segala yang tlah diberi
Sekedar mencoba menapaki lurus jalan dengan keluhuran budi
Sekedar mengecap rasa jiwa tuk tunjukkan bijaksana

Akhirnya semua harus berkaca,
Kitalah pemilik kehendak yang tak bisa menolak Kehendak-Nya
Hanya tuk belajar meredam emosi tatkala ambisi membara dihati
Hanya tuk rela melangkah lemah tatkala segala daya tertolak kalah
Hanya tuk meyakini semua usaha tak ada yang sia-sia

Akhirnya semua harus berkaca,
Kita jualah perencana yang tak mampu menahan hasil kenyataan-Nya
Setelah sabar menanti pergi lelah berpindah berkah
Setelah sekuat tenaga diam bertahan menjalani hari

Senin, 18 Juni 2012

AYO BELAJAR MELAWAN KEADAAN


Rasa takut kita untuk salah lebih sering menjadikan kita salah daripada betul. (Mario Teguh)

Sejatinya manusia hanyalah perencana yang sudah menjalin kerjasama dalam proyek besar dari Allahu Akbar. Setiap kita telah di danai dengan kecukupan yang tak bisa dihitung jari. Semenjak investasi ini manusia setujui saat Allah bertanya, “Bukankah Aku ini Tuhanmu?”. Saat itu setiap kita menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi”. Dan proyek itu adalah kehidupan ini, hari-hari yang kita jalani.

Dalam sebuah episode kehidupan ketika ditanya bagaimana dia bisa bertahan setelah ribuan kali gagal, seorang Thomas Alfa Edison menjawab, “Saya tidak gagal, tetapi menemukan 9994 cara yang salah dan hanya satu cara yang berhasil. Saya pasti akan sukses karena telah kehabisan percobaan yang gagal”. Begitulah sikap orang gigih yang percaya kebenaran itu dapat dicapai setelah sabar bangkit dari berkali-kali percobaan salah.

Kehidupan ini memang serupa serangkaian keberanian bersikap dalam setiap keadaan. Seperti penemu bola lampu itu yang memilih untuk terus menghampiri kemungkinan salah, dengan sikap pantang menyerah yang akhirnya malah menyejarah.

Senin, 04 Juni 2012

CATATAN PERJUANGAN (05 Juni 2012; 8:18 WIB)

Ternyata yang kurasa, keyakinan tak selalu berjalan mulus dengan realita keseharian perilaku. Selalu ada bisikan-bisikan entah yang mengajarkan lain. Selalu berubah ketika suatu harapan yang sudah mulai terjalani tiba-tiba terganggu dengan adanya hambatan-hambatan. Selalu mencoba yang tak boleh dicoba, selalu berani berlaku yang tak seharusnya dilakukan. Ah….itulah dulu, berawal dari jiwa yang ingin tahu dan mencoba hal-hal yang baru. Tapi kini moga masa itu takkan kembali lagi.
Dan hari ini, berawal dari kekecewaan yang melahirkan rasa penasaran aku jalani jalan ini. Jalan yang sebenarnya sudah aku jalani dulu ketika aku masih sekolah. Ialah jalan dakwah, jalan tarbiyah.
Diantara beragam kepala yang terkumpul saat pertemuan demi pertemuan, ada kesan yang jua selalu berubah. Ada harapan yang juga selalu lain dari tiap pekannya. Ada agenda yang semestinya berjalan mendekati sempurna, namun pula lain pada akhirnya. Ada pelajaran sosial dan psikologi dari setiap kebersamaan yang terjalani. Berbeda itu indah, namun akan lebih indah lagi bila perbedaan itu mampu melahirkan persamaan langkah. Tapi itu pasti tidak mudah, butuh waktu dan proses untuk sampai kesana.
Namun terlepas dari semua perasaan dan harapan dengan bergabungnya aku pada jalan ini, tetap akan ku coba mengikhlaskan hati agar langkah tak lemah. Terlepas pula dengan segala realita kebutuhan sehari-hari yang jua harus terpenuhi, aku yakin bila Allah telah menetapkan suatu jalan pada hamba-Nya dan hamba itu rela menjalaninya sepenuh hati. Takkan pernah mungkin Allah meninggalkan hamba itu sedetik pun bersama kesulitan-kesulitannya.
Wallahu a’lam.

Kamis, 19 April 2012

Mari Bersyukur

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl: 18)

Maha Suci Allah yang menciptakan hamparan langit indah membentang, yang padanya burung-burung terbang bebas mengelilingi wujud Kemahabesaran-Nya. Yang padanya menggantung awan-awan yang berbaris menurut kisaran angin, yang ketika telah mencapai waktunya turunlah hujan dari celah-celahnya membasahi bumi yang kering kerontang. Kemudian air hujan itu menyuburkan bumi dengan buah dan sayur mayur.

“Allah yang mencipta langit-langit dan bumi, dan menurunkan air hujan dari langit lalu mengeluarkan dengan air itu buah-buahan sebagai rezeki bagimu. Dan Dia menundukkan bagimu perahu sehingga berjalan di atas lautan dengan perintah-Nya, dan Dia menundukkan sungai-sungai bagimu. Dan Dia menundukkan bagimu matahari dan bulan yang tidak henti-hentinya (beredar), dan Dia menundukkan bagimu malam dan siang. Dan Dia memberikan kepadamu semua yang kamu minta. Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu adalah makhluk yang banyak berbuat zhalim dan banyak mengkufuri (nikmat).” (QS. Ibrahim: 32-34)

Segala Puji bagi-Nya yang membuat kita masih mampu bernafas, masih bisa melihat, masih lapang ketika sempit, masih mampu bersabar, masih….dan masih…..

Minggu, 08 April 2012

MARI MEMBIASAKAN DIRI TIDAK MENGELUH


“Apa yang terjadi pada anda tidak penting. Yang penting adalah apa yang anda lakukan terhadap apa yang terjadi pada anda.” (DR. Robert Schuler)

Hidup adalah proses panjang melelahkan yang penuh coba dan goda, seperti dunia yang bagaikan penjara bagi mereka yang bertakwa. Karena bagi pencari keridhoan Yang Esa, kalaupun dia hartawan atau hanya sabar dan syukurlah perhiasan yang dia punya. Tidaklah semua itu berharga, melainkan hanya cicipan ala kadarnya dari surga yang kenikmatannya abadi tiada tara.

Dalam The Way To Win karya Solikhin Abu Izzuddin dikisahkan, pada suatu hari sebagai qadhi-semacam hakim agung tingkat nasional- ia berkendara keledai yang bagus (Mitshubishi kuda kalau sekarang). Pakaiannya bagus, performanya meyakinkan. Saat melintas disebuah pasar tiba-tiba seorang yahudi pedagang minyak menghadang. Memegang tali keledai sang Imam seraya berkata, “Ya Syaikhul Islam, anda menyatakan bahwa Nabimu bersabda, ‘dunia itu penjara orang beriman dan surganya orang kafir’. Dengan penampilan anda yang seperti ini, anda dipenjara seperti apa? Dan dengan keadaan saya yang seperti ini, saya berada disurga seperti apa?”

Ibnu Hajar menjawab, “Dengan kondisi seperti ini, saya dibanding dengan nikmat yang Allah janjikan di akhirat, seolah dalam penjara. Engkau dengan kondisi seperti itu, dibandingkan dengan siksa yang Allah ancamkan di akherat nanti, sekarang berada di dalam surga.”

Luar biasa! Mendengar jawaban tersebut, yahudi spontan masuk Islam. Sehebat apapun orang mukmin di dunia, ia masih berada dalam “penjara keterbatasan”. Segembel apapun orang kafir, mereka masih di surga, sebab masih ada neraka menyala menanti mereka.

Inilah ketetapan Allah Azza wa Jalla, bahwa sebenarnya bagi orang-orang beriman telah tersedia surga yang kekal selamanya. Asalkan mau berusaha, bersabar lalu berdoa memasrahkan segala daya yang telah terupaya pada-Nya Yang Kuasa. Maka tidaklah pantas mengeluhkan kehendak-Nya yang terjadi pada kita, karena sebenarnya;

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (TQS. Al-Hadid:22)

Manusia memang diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir, tapi itu bagi mereka yang tak mau berfikir. Bahwa jika seseorang dihadapkan pada suatu masalah, sebenarnya dia sedang diberikan kesempatan untuk bisa ditempatkan-Nya pada posisi yang lebih baik dari sebelumnya.

Namun jika kita mengeluh, sama saja telah menyangsikan kekuasaan Allah. Karena secara tidak langsung hal itu menandakan buruknya persangkaan kita pada Allah, sementara Allah mengikuti persangkaan hamba-Nya. Padahal;

“Sesungguhnya jika Allah akan mencintai suatu kaum, maka Dia akan memberikan ujian kepada mereka. Barang siapa yang bersabar, maka kesabaran itu bermanfaat baginya. Dan barang siapa marah (tidak sabar) maka kemarahan itu akan kembali padanya.” (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi, Ibnu Muflih berkata, “Isnad hadits ini baik”)

Maka sebenarnya bila kita mampu mengurangi kebiasaan mengeluh atau tidak mengeluh sama sekali dan berusaha berbaik sangka pada-Nya, hal itu akan menjadi penyumbang bagi kebaikan kehendak-Nya pada kita.

Oleh karena itu, marilah kita membiasakan diri untuk tidak mengeluhkan masalah (Apa yang terjadi pada anda tidak penting). Tapi mari kita berfikir cerdas dan berusaha ikhlas mencari solusi secara tuntas (Yang penting adalah apa yang anda lakukan terhadap apa yang terjadi pada anda). Penulis pun terus belajar untuk hal ini.

Syukuri apa yang ada
hidup adalah anugerah
tetap jalani hidup ini
melakukan yang terbaik
Tuhan pasti kan menunjukkan
kebesaran dan kuasa-Nya
bagi hamba-Nya yang sabar
dan tak kenal putus asa
(D’Masiv – Jangan Menyerah)

“...Kemudian apabila kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul-Nya jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian...”    (TQS. An-Nisa:59)

Mari Belajar Memaknai Kesabaran


Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (TQS. al-Baqarah : 214)

Segala Puji Bagi Allah yang telah memberikan kita kelimpahan dan kecukupan rezeki, meski itu sering dikeluhkan olah manusia. Salawat teriring salam semoga selalu tercurah limpahkan kepada junjungan mulia, Nabi Muhammad SAW. Kepada keluarga, sahabat, serta seluruh pengikut beliau yang senantiasa menapaki jejaknya hingga yaumil akhir nanti. Amin.

Kehidupan adalah jalan lurus yang terhampar padanya duri-duri tajam lagi menyiksa. Pun yang terhias pernak-pernik kesenangan dan kemudahan yang melenakan. Juga segala olah rasa yang sering membuat raga tak kuasa menahan semua beban hidup yang ada, sehingga banyak manusia berusaha menghilangkan nyawanya. Serta butir-butir hikmah yang sejuknya terasa hingga jiwa, yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang selalu ingin mendekatkan dirinya dengan Sang Pemilik hikmah.

Adalah keindahan yang sempurna semua kejenuhan rutinitas yang ada, di mana manusia akan bisa belajar mewarnai monotonnya hari yang selalu dia lalui. Dengan begitu, kita secara tidak langsung diajarkan untuk ikut berlelah diri dalam mengisi umur yang telah diberi. Agar manisnya terkesan berarti, juga menyejarah hingga tua nanti. Dengan semua kepayahan yang kita usahakan, Allah tidak akan mendiamkan begitu saja. Allah pasti akan membalas dengan balasan yang terindah di setiap saatnya.

Karena kita makhluk sempurna, pasti akan selalu ada aral melintang yang menjadi penghalang. Di setiap nafas asa yang membara dalam dada, dikala bencana duka yang menyayat hati, pun masa ketika kita mencoba berusaha berbaik laku dan sangka pada alam sekitarnya. Itulah ujian keimanan yang kan mendewasakan batin dan pikiran kita. Dan sebaik-baik penangkalnya adalah kesabaran. Dari semua, suka duka, hinaan gunjingan, tekanan aturan juga kebutuhan hidup harian.

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan,
“Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji`ûn” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (TQS. al-Baqarah [2]: 155-157)

Salah satu kesabaran seorang anak menusia adalah ketegaran dari perlakuan dzalim yang dia terima. Ketika kehidupan bermasyarakat sudah mensyaratkan kasta-kasta, lalu ego manusiawi turut meramaikan pergolakan hati. Antara ambisi pribadi dan panggilan nurani yang ingin selalu memberi. Pun saat dunia kerja tak lagi mampu dipercaya. Kemudian tercipta kesenjangan antar golongan, pemimpin dengan bawahan, yang kaya dengan yang kurang berada.

Namun Allah Yang Esa, selalu mendampingi di tiap jerit pinta seorang hamba yang yakin sepenuh jiwa bahwa DIA pasti akan terus mengupayakan yang paling baik diantara yang terbaik yang manusia itu usahakan untuk dirinya.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka” (TQS. Ar-Ra’d : 11).

Keberhasilan hidup Anda sepenuhnya ada dalam tanggung-jawab Anda. 
Janganlah lagi menunggu dibuat berhasil, dan jangan ijinkan orang lain memperlambat keberhasilan Anda. 
Kehidupan ini adalah kehidupan Anda. Maka keberhasilannya adalah keputusan penuh Anda!

Katakanlah, say it!
I am the boss of my life!

(Mario Teguh)

Seberat dan sebesar apapun kesusahan yang kita terima, baik itu di keluarga, masyarakat, pun tempat bekerja ketika pemimpin tak kuasa beri ruang pada tangga keberhasilan kita. Pasti selalu ada hikmah di dalamnya. Dan kala tuntutan hidup semakin tumbuh seiring perekonomian yang carut marut. Sebuah pesan indah pertarungan megah yang kan menghantarkan kita pada tepian samudera ketegaran. Saat itulah mungkin makna kesabaran kan terasa lezatnya.   

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”. (TQS. az-Zumar :10)

Kesabaran yang tersandar pada kuatnya keyakinan pada Sang Maha Kuat, akan mampu melahirkan keberanian bersikap. Bukan berbuah pasrah yang rela tertindas dalam penguasaan orang lain. Namun terlebih pada penunjukan prinsip diri yang kokoh, yang tak mudah gentar hanya dengan gertakan duniawi semata.

“Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar”. (TQS. Ali-Imran :146)

Kesabaran bagaikan kayu bakar yang kan mampu membarakan semangat juang setiap insan. Namun kita masih memerlukan api penyulutnya, agar benar-benar bisa merasakan hangatnya kekuatan untuk melawan segala fitnah yang kan menghadang. Dan sebaik-baik api penyulut kesabaran adalah shalat. Karena mereka selalu disejajarkan sebagai senjata ampuh melawan kedzaliman.

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu', (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (TQS. al-Baqarah : 45-46)

“Dan perintahkanlah keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (TQS. Thaahaa : 132)

Kesabaran manusia hanya akan berbuah kekecewaan bila tidak diikat dengan shalat. Karena shalat bukan hanya sebuah ritual semata, bukan pula penggugur kewajiban belaka. Shalat adalah bukti ketundukan dan kepatuhan kita pada Allah SWT, Pemilik segala kemudahan. Dan jangan sampai kita menjadi makhluk durhaka yang mengabaikan Tuhannya setelah DIA Yang Esa Memberikan semua nikmat-nikmat-Nya pada kita.

“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).” (TQS. al-Maa’idah : 55)

Sejarah pun mencatat perintah sabar dan shalat, yaitu ketika Lukman menasehati anaknya yang terabadikan dalam Al-Qur’an;

“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (TQS. Lukman : 17)

Mutiara itu adalah kesabaran yang tersimpan di kedalaman lautan, dan penjaga agar kemilaunya tak pernah redup adalah shalat yang menutupinya bagaikan cangkang yang kokoh. Dan keduanya adalah permata yang amat berharga. Seperti itulah kiranya makna kesabaran  yang terwarnai dengan konsistensi shalat yang harus kita miliki, teramat dalam menghujam hati sehingga tercipta sebagai identitas pribadi.

Mari kita belajar lebih memaknai kesabaran, agar hari-hari esok yang kan menantang bukan lagi jadi hambatan yang terlalu berarti.

“Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; maka barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri; dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudharatannya kembali kepadanya. Dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemelihara(mu).” (TQS. al-An’aam : 104)


Sumber: http://www.dakwatuna.com

Senin, 06 Februari 2012

Abraham David Mandey : Pendeta yang mendapat Hidayah Allah




Barangkali tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa perjalanan hidupnya merupakan suatu kasus yang langka dan unik. Betapa tidak, Abraham David Mandey yang selama 12 tahun mengabdi di gereja sebagai "Pelayan Firman Tuhan ", istilah lain untuk sebutan pendeta, telah memilih Islam sebagai "jalan hidup" akhir dengan segala risiko dan konsekuensinya. Di samping itu, ia yang juga pernah menjadi perwira TNI-AD dengan pangkat mayor, harus mengikhlaskan diri melepas jabatan, dan memulai karir dari bawah lagi sebagai kepala keamanan di sebuah perusahaan swasta di Jakarta.

Cerita Beliau ini, - mohon maaf - tidak bermaksud untuk menjelek-jelekan Institusi tertentu karena apa yang telah terjadi Beliau terima dengan ikhlas dan tawakal, Beliau hanya ingin menceritakan proses bagaimana Beliau mendapat hidayah dan tantangannya sebagai mualaf - red.

Saya terlahir dengan nama Abraham David di Manado, 12 Februari 1942. Sedangkan, Mandey adalah nama fam (keluarga) kami sebagai orang Minahasa, Sulawesi Utara. Saya anak bungsu dan tiga bersaudara yang seluruhnya laki-laki. Keluarga kami termasuk keluarga terpandang, baik di lingkungan masyarakat maupun gereja. Maklum, ayah saya yang biasa kami panggil papi, adalah seorang pejabat Direktorat Agraria yang merangkap sebagai Bupati Sulawesi pada awal revolusi kemerdekaan Republik Indonesia yang berkedudukan di Makasar. Sedangkan, ibu yang biasa kami panggil mami, adalah seorang guru SMA di lingkungan sekolah milik gereja Minahasa.

Sang Anak "Ajaib"

Muallaf Agnes
“Papah, Mamah, Rio Tunggu di Pintu Surga!”

Agnes adalah sosok wanita Katolik taat. Setiap malam, ia beserta keluarganya rutin berdoa bersama. Bahkan, saking taatnya, saat Agnes dilamar Martono, kekasihnya yang beragama Islam, dengan tegas ia mengatakan “Saya lebih mencintai Yesus Kristus dari pada manusia!”

Ketegasan prinsip Katolik yang dipegang wanita itu menggoyahkan Iman Martono yang muslim, namun jarang melakukan ibadah sebagaimana layaknya orang beragama Islam. Martono pun masuk Katolik, sekedar untuk bisa menikahi Agnes. Tepat tanggal 17 Oktober 1982, mereka melaksanakan pernikahan di Gereja Ignatius, Magelang, Jawa Tengah.

Usai menikah, lalu menyelesaikan kuliahnya di Jogjakarta, Agnes beserta sang suami berangkat ke Bandung, kemudian menetap di salah satu kompleks perumahan di wilayah Timur kota kembang. Kebahagiaan terasa lengkap menghiasi kehidupan keluarga ini dengan kehadiran tiga makhluk kecil buah hati mereka, yakni: Adi, Icha dan Rio.

Di lingkungan barunya, Agnes terlibat aktif sebagai jemaat Gereja Suryalaya, Buah Batu, Bandung. Demikan pula Martono, sang suami. Selain juga aktif di Gereja, Martono saat itu menduduki jabatan penting, sebagai kepala Divisi Properti PT Telkom Cisanggarung, Bandung.