Kamis, 27 September 2012

Karena Ukuran Kita Tak Sama

-->


seperti sepatu yang kita pakai, tiap kaki memiliki ukurannya memaksakan tapal kecil untuk telapak besar akan menyakiti memaksakan sepatu besar untuk tapal kecil merepotkan kaki-kaki yang nyaman dalam sepatunya akan berbaris rapi-rapi

Seorang lelaki tinggi besar berlari-lari di tengah padang. Siang itu, mentari seakan didekatkan hingga sejengkal. Pasir membara, ranting-ranting menyala dalam tiupan angin yang keras dan panas. Dan lelaki itu masih berlari-lari. Lelaki itu menutupi wajah dari pasir yang beterbangan dengan surbannya, mengejar dan menggiring seekor anak unta.

Di padang gembalaan tak jauh darinya, berdiri sebuah dangau pribadi berjendela. Sang pemilik, ’Utsman ibn ‘Affan, sedang beristirahat sambil melantun Al Quran, dengan menyanding air sejuk dan buah-buahan. Ketika melihat lelaki nan berlari-lari itu dan mengenalnya,

“Masya Allah” ’Utsman berseru, ”Bukankah itu Amirul Mukminin?!”

Ya, lelaki tinggi besar itu adalah ‘Umar ibn Al Khaththab.

”Ya Amirul Mukminin!” teriak ‘Utsman sekuat tenaga dari pintu dangaunya,

“Apa yang kau lakukan tengah angin ganas ini? Masuklah kemari!”

Dinding dangau di samping Utsman berderak keras diterpa angin yang deras.

”Seekor unta zakat terpisah dari kawanannya. Aku takut Allah akan menanyakannya padaku. Aku akan menangkapnya. Masuklah hai ‘Utsman!” ’Umar berteriak dari kejauhan. Suaranya bersiponggang menggema memenuhi lembah dan bukit di sekalian padang.

“Masuklah kemari!” seru ‘Utsman,“Akan kusuruh pembantuku menangkapnya untukmu!”.

”Tidak!”, balas ‘Umar, “Masuklah ‘Utsman! Masuklah!”

“Demi Allah, hai Amirul Mukminin, kemarilah, Insya Allah unta itu akan kita dapatkan kembali.“

“Tidak, ini tanggung jawabku. Masuklah engkau hai ‘Utsman, anginnya makin keras, badai pasirnya mengganas!”

Angin makin kencang membawa butiran pasir membara. ‘Utsman pun masuk dan menutup pintu dangaunya. Dia bersandar dibaliknya & bergumam,

Jumat, 21 September 2012

MELEBURNYA SABDA LANGIT


Puisi dibawah ini terlahir dari rahim Pilkada DKI, dimana atmosfir udara kemunafikan amat kental tercium hingga sejagat negeri merasa berhak mencegat naik tahtanya ideologi kafir. Selamat menunaikan ibadah puisi!!!


MELEBURNYA SABDA LANGIT

Kebodohan adalah tarian tolol pembangkangan 
ketika pilihan jelas telah disuguhkan-Nya
ucap-Nya bukan referensi semata
pun senda gurau kaum galau

Ingatkah pesan yang abadi
Janganlah kau mengambil orang yang gelap nurani
sebagai bagian yang titahnya kan kau penuhi
dan sesiapa yang mengikutinya termasuklah dia itu mereka

Rabu, 19 September 2012

CECERAN DARAH DIBULAN BERKAH


Ramadhan 1433 hijriyah,
Catatan-Nya mengagungkan-Nya dalam hela detik yang merah
Kemegahan seribu bulan tak serta jadi ladang toleran
Hak asasi hanya jadi wacana busuk para pendengki
Perbincangan jalan damai malah jadi ajang konspirasi

Rohingya yang basah dengan darah
Saat kita gembira menyambut detik puasa, di sana mereka diancam dan di siksa
Saat kita meributkan awal sahur, di sana mereka ketakutan digempur
Saat kita menikmati buka puasa bersama keluarga,
Disana batin mereka menangisi keluarganya yang baru saja terbunuh
Saat kita mengeluh di siang hari,
Disana mungkin saja mereka sedang berlari sembunyi
Dari peluru-peluru binatang pembersih etnis

KEMENANGAN KITA TERTUNDA


Perjuangan yang telah kita berlelah payah demi tekad mulia ridho-Nya, tidak seharusnya terbayar dengan kelesuan. Bukan jundullah bila lemah, bukan hamba-Nya bila putus asa, bukan ikhwah bila resah pasrah. Semua kan dipergilirkan kawan, kemenangan dan kekalahan pasti adil kita rasakan sebagai tanda Kemahabesaran-Nya.

Pasti perlakuan-Nya adalah sinyal kecintaan-Nya, agar DIA Melihat lebih banyak lagi langkah sabar yang kita lakukan.

Janganlah dulu menyerah, kawan!!!
Kerelaan kita menempuh jalan kesabaran tlah menjadi kobaran ghirah tak bernilai. DIA pasti melihat kerja-kerja n kelelahan demi kelelahan yg kita tumpahkn dalam jalan ini. DIA pasti tahu kapan harus kita dapatkan kemenangan nyata. DIA juga pasti tahu kita tlah berlelah payah tuk sampai pada saat ini, detik kemenangan yg tertunda.

Janganlah dulu menyerah, kawan!!!
Kita tidak seberapa menderita ketimbang saudara-saudara kita dibelahan bumi lain. Mereka kini mungkin sedang disiksa, dibantai keluarganya, dikuliti bahkan dibakar hidup-hidup saat kita merasa jenuh menapaki batas-batas kesabaran perjuangan.

AKHIRNYA HARUS


Akhirnya semua harus berkaca,
Kitalah perwakilan Yang Maha Sempurna namun tak sempurna
Sekedar belajar melengkapi segala yang tlah diberi
Sekedar mencoba menapaki lurus jalan dengan keluhuran budi
Sekedar mengecap rasa jiwa tuk tunjukkan bijaksana

Akhirnya semua harus berkaca,
Kitalah pemilik kehendak yang tak bisa menolak Kehendak-Nya
Hanya tuk belajar meredam emosi tatkala ambisi membara dihati
Hanya tuk rela melangkah lemah tatkala segala daya tertolak kalah
Hanya tuk meyakini semua usaha tak ada yang sia-sia

Akhirnya semua harus berkaca,
Kita jualah perencana yang tak mampu menahan hasil kenyataan-Nya
Setelah sabar menanti pergi lelah berpindah berkah
Setelah sekuat tenaga diam bertahan menjalani hari