Rabu, 23 Januari 2013

RENUNGAN BANJIR IBUKOTA


Januari 2013 saat Jakarta terkepung banjir,

Cerahnya langit pada saat tahun baru yang dibalas hujan kembang api oleh warga ibukota, tak membuat pemapar pelangi itu mengembalikan pada bumi dengan pengembalian yang terburuk. Yang Maha Kasih Membelai bumi dengan menjatuhkan keberkahan yang tak terbendung karena tanah berubah aspal dan trotoar, sementara doa pinta hanya sekedar keperluan warga semata. Bukan karena sadar jiwa akan hidup yang sementara.

Jakarta dalam rengkuh langit,

Senin, 14 Januari 2013

ANGIN


Hhhuuuusssttt……

Kala kau lewat damai serasa menentramkan, ku ingat sepi dalam bayang-bayang pematang siang yg sunyi, hanya debu desa dan panasnya udara matahari menemani. Sjauh mataku memandang ternyata waktu tertawa melihatku terdiam, merasa aneh denganku yg terdiam, smakin menjauh karenaku yg terdiam, kulihat matanya mengisyaratkn kesombonganku katanya.

Angin itu berlalu setiap waktu, melintasi pori-pori hulu nafas setiap yg bernafas, melalui lembah-lembah gundah setiap masanya, menyambangi ketenangan alam yg terpajang indah. Angin itu diam bukan tanpa alasan, kadang keadaan geografis suatu tempat mengharuskannya berhembus lambat, kadang pada padang yg berpasir dia akan membawa serta debu ke mukamu.
-->

Kamis, 03 Januari 2013

KARENA SABAR ITU SIBUK


Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta diguncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS. al-Baqarah [2]: 214)

Sejarah menceritakan bagaimana seorang manusia yang tadinya kaya dan memiliki keluarga utuh, tetap tenang menjalani hari meski setan telah berhasil mencerai-beraikan keluarganya. Dia pun selalu sibuk memindahkan puluhan ulat yang menempel ditubuhnya saat hendak beribadah pada Allah, namun kesibukannya itu tak membuatnya mengeluh apalagi menyalahi nasib. Dia juga selalu sibuk mengadukan semua pada Allah, hingga kisahnya abadi tercatat.

“Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru Tuhan-nya; “Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan. (Allah berfirman): “Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum. Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai fikiran. Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan-nya).”(QS. Shaad : 41-44)

Terceritakan pula bagaimana sibuknya para pejuang kemerdekaan suatu bangsa yang sabar mempersiapkan kemerdekaannya kelak. Mereka selalu sibuk dengan beragam cara dan strategi, meski harus terulang kekalahan dan membutuhkan banyak pengorbanan. Namun pada hakikatnya mereka sabar dalam kesibukannya melihat aliran darah yang tumpah ditangan para penjajah. Mereka sibuk berusaha mengubah penjajahan menjadi kemerdekaan, dengan terus melapangkan dada sabarnya dan meyakini bahwa Allah pasti membantunya.