Rabu, 27 Februari 2013

Dalam Dekapan Cinta


Dalam dekapan cinta,
Dulu kau bukan siapa-siapa bagiku
sebelum Yang Maha Mencintai mempertemukan kita.
Banyak prasangka yang hinggap ketika kau mengetahuiku
dan aku pun tahu siapa dirimu.
Tapi Yang Maha Mengetahui mengerti degub debar jantung
yang terhias saat kita saling memandang.

Kau bukan wanita sempurna,
namun Yang Maha Sempurna memperlihatkan kesempurnaan cinta
dalam tulusnya penjagaan hatimu untuk ku.
Kau bukan wanita perkasa,
namun Yang Maha Perkasa menunjukkan
betapa kuatnya keinginanmu membersamaiku
ketika coba menggoda hari-hari kebersamaan kita.
Kau bukan wanita tercantik,
namun senyum mu selalu ada untuk ku.
Kau bukan wanita terpintar,
namun kecerdasanmu yang lain menutup kelamahanku yang lain.

Dalam waktu yang hangat,
Membersamaimu adalah kesejukan terindah yang tenang




Sabtu, 23 Februari 2013

Berawal Sakit Hati Berujung Jatuh Hati

-->
Teringat tahun pertama pernikahan, saya adalah seorang “syabab” yang dipertemukan dalam mahligai rumah tangga dengan seorang akhwat kader PKS. Perbedaan pandangan kami memang terkadang memicu tumpahnya “bumbu” yang amat sedap dalam rumah tangga. Waktu itu hari minggu pas saya sedang mengalami demam walau tidak seberapa parah, entah mengapa istri saya memaksa agar saya mengikuti kegiatan demo. Padahal sudah beberapa kali saya peringatkan kalau saya sedang sakit, tapi dia terus berusaha membujuk. Sampai ketika saya izinkan dia pergi sendiri untuk demo saja, dia masih berusaha meyakinkan saya.

Hal ini lah awal mula kemarahan dan rasa sakit hati saya. Tapi pun terbersit dalam hati kecil untuk mencari tahu kekuatan apa sebenarnya yang ada dalam PKS, sehingga berulang-ulang istri saya meyakinkan saya untuk ikut demo pada waktu itu.

Sekitar pertengahan tahun 2010 di daerah Kembangan Selatan, Jakarta Barat saya berkenalan dengan teman-teman pengurus ranting PKS disitu. Karena janji saya pada istri untuk ngaji dengan PKS dan juga rasa penasaran ingin mencari tahu apa serta seperti apa itu PKS, akhirnya saya bergabung.

Bulan-bulan pertama saya mengaji dengan PKS, masih sering ada keengganan untuk menghadiri liqo pekanan. Ada saja alasan saya agar bisa meliburkan diri dari kegiatan itu, sampai beberapa kali saya merasa tersindir dengan ucapan murobbi pada waktu itu. Namun tetap saya jalani, dan teman-teman ranting pun selalu mensupport.

Selasa, 12 Februari 2013

VD = Valentine Death


“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, berarti ia termasuk dalam golongan kaum tersebut”  (HR. Ibnu Abbas)

Hari kasih sayang yang di gembar-gemborkan jatuh pada tanggal 14 Februari, tak lebih hanyalah tipu daya yang lahir dari persekongkolan politik kaisar Romawi berabad-abad silam.

Pada abad ke 16-17 silam, orang-orang Romawi kuno memiliki salah satu upacara ritual penghormatan pada dewa alam (Lupercus). Saat itu di sana amat kental dengan paganisme, hingga sebagian mereka memeluk agama nasrani. Sampai pada suatu masa di mana telah banyak rakyat Romawi yang memeluk nasrani, namun para pembesar kerajaan masih suka melakukan ritual-ritual pagan. Kemudian keadaan bergejolak, banyak rakyat menentang apa yang dilakukan oleh lingkungan kerajaan.

Di saat itulah terjadi konspirasi budaya, di mana untuk menenangkan rakyat Romawi dan demi keberlangsungan ritual penghormatan pada Lupercus. Akhirnya Paus Gelasius I pada masa itu menggemakan ajakan untuk menghormati jasa seorang pendeta yang dipercaya amat taat menyebarkan agama nasrani. Yang mati di eksekusi oleh raja Claudius II pada tanggal 14 Februari 270 m. Dan pendeta itu bernama Valentine yang ternyata memiliki banyak pengikut. Sejak saat itu para pengikut Valentine selalu mengadakan perayaan penghormatan atas jasa-jasanya pada tanggal di mana dia di eksekusi.

Hingga sampai saat ini, 14 Februari dikenal sebagai hari kasih sayang. Hari di mana para pengikut Valentine merasakan indahnya jasa perjuangan pendeta itu dalam menyebarkan agama nasrani. Yang sebenarnya di belakang semua itu, lebih menjurus pada perayaan penghormatan pada dewa alam (Lupercus).

Lalu pantaskah orang-orang muslim, yang mengaku Islam dan bertuhankan Allah Azza wa Jalla, turut serta dalam perayaan semacam itu? Tidakkah malu pada Allah yang kasih sayang-Nya tak terbatas hari dan tanggal?

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra : 36)

“.... Sebenarnya bagi orang kafir, tipu daya mereka itu dijadikan terasa indah dan mereka dihalangi dari jalan yang benar. Dan barangsiapa di sesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun yang memberi petunjuk baginya. Mereka mendapat siksaan dalam kehidupan dunia, dan azab akherat pasti lebih keras. Tidak ada seorangpun yang melindungi mereka dari azab Allah.”               (QS. Ar-Rad : 33-34)

INGAT!!! Ini bukan hanya sekedar cokelat, bunga atau kata-kata manis pujangga. Tapi ini adalah prinsip orang bertakwa.

SAY NO TO VALENTINE DAY

“Hanya ada dua jenis manusia yang merayakan valentine day; KAPITALIS yang KEJI dan ORANG BODOH yang TERTINDAS.” (Ust. Shofwan Al-Banna)



13 Februari 2013; 3:30 WIB
Share coz care, -MK.

Senin, 11 Februari 2013

Teruslah Berbaik Sangka


Teringat kalam murrobi beberapa pekan ke belakang, dia menceritakan hikmah kebijaksanaan. Tentang seorang janda tukang tenun yang mempunyai banyak anak pada zaman Nabi Daud. Sepeninggalan suami tercinta, dia berusaha membuat kain selama beberapa hari untuk kemudian di jual di pasar. Besar harapannya agar kain itu nantinya segera terjual, agar dia dan anak-anaknya bisa makan. Sambil menyelesaikan pekerjaannya, dalam hati kecilnya dia mengeluh pada Allah perihal pahitnya hidup yang dijalani. Sampai pada saat kain itu jadi, dan harus segera di jual.

Ketika janda itu bersama anak-anaknya pergi ke pasar hendak menjual kain tersebut, di tengah jalan datanglah seekor burung yang dengan tiba-tiba mengambil kain itu lalu membawanya pergi. Serta merta mereka terkejut dan berusaha mengambilnya kembali. Tapi burung itu sudah jauh meninggalkan mereka.

Janda itu membuncah rasa dan mengeluh bahkan sampai menyalahi Allah dengan berkata;