Senin, 25 Maret 2013

Saya Bangga Membenci PKS


Bagi saya politik itu kotor, kejam, menghalalkan segala cara dan jauh dari kebaikan. Anggapan itu saya dapat ketika masih sekolah. Dalam pandangan saya mereka yang terlibat dikancah perpolitikan, sudah pasti akan melakukan berbagai cara agar berhasil meraih suara demi pemimpin-pemimpin mereka.

Apalagi jika hal itu dibalut dengan embel-embel agama, rasanya tidak pantas kemurnian ajaran agama harus disandingkan dengan perpolitikan yang penuh intrik. 
Seperti beberapa partai politik yang mengatasnamakan agama, mengatasnamakan dakwah.

Yang paling terlihat penyandangan lebel agama, ternyata ada pada PKS. Yang menamakan partai islam, partai dakwah. Yang juga katanya di dalamnya ada pembinaan yang lain dari pada partai lainnya. Hal ini membuat saya makin membenci perpolitikan dalam negeri. 

Sampai sejak saya berhak memilih dalam suatu pemilihan, saya tidak pernah datang mencoblos. Karena bagi saya semua partai sama saja, sama-sama buaya pemerintahan yang kan mencaplok mangsanya ketika sudah dipercaya.

Sabtu, 23 Maret 2013

Mari Belajar Bijak Memimpin


Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian cintai dan mereka juga mencintai kalian, kalian mendoakan kebaikan untuk mereka dan mereka juga mendoakan kebaikan untuk kalian. Dan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah yang kalian benci dan mereka juga membenci kalian, kalian melaknat mereka dan mereka juga melaknat kalian. Kami bertanya, “Wahai Rasulullâh, tidakkah kita melawan mereka dalam keadaan demikian.” Beliau  menjawab, “Tidak, sepanjang mereka masih menegakkan sholat. Ingatlah, siapa yang dipimpin oleh seorang pemimpin lalu ia melihatnya melakukan sesuatu dari kemaksiatan kepada Allah, maka handaknya ia benci kepada maksiat yang dia lakukan dan jangan sekali-kali membatalkan ketaatan kalian kepada mereka. (Hadits ‘Auf bin Mâlik radhiyallâhu ‘anhu dalam riwayat Muslim)

Memimpin sebenarnya adalah seni mencintai yang meliputi kekuatan sabar mendengarkan, ketajaman hati dalam memahami yang kesemuanya harus terimplikasi dalam kebijaksanaan untuk menyejahterakan. Untuk itu hanya orang-orang tangguh berjiwa besar yang akan mampu berkuasa bersama cinta.

Karena memimpin berarti mencintai, maka menurut M. Anis Matta, Lc dalam Serial Cinta-nya; cinta mengajarkan kita untuk memperoleh hak-hak kita dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban kita kepada orang lain. Itulah yang mempertemukan dua kutub jiwa. Pertemuan itulah yang membuat kita genap-menggenapi, dan saling menyempurnakan karya kehidupan. Jadi bukan karena cinta buta penuh ambisi dengan menghalalkan segala cara yang seharusnya diterapkan pemimpin sejati, tapi cinta yang membersamakan rasa pemahaman.

Sejarah pernah mencatat kearifan seorang pemimpin sejati di zaman sahabat nabi, dialah Umar Bin Khatab. Seorang khalifah yang pernah memanggul karung makanan dengan pundaknya sendiri untuk diberikan pada salah satu rakyatnya yang kelaparan. Begitulah jalan cinta mengajarkan seorang pemimpin, agar sabar mendengar lalu dengan nurani melangkah memahami.

Minggu, 17 Maret 2013

Dari Kalam Murobi


Teringat kalam murrobi beberapa pekan ke belakang, dia menceritakan hikmah kebijaksanaan. Tentang seorang janda tukang tenun yang mempunyai banyak anak pada zaman Nabi Daud. Sepeninggalan suami tercinta, dia berusaha membuat kain selama beberapa hari untuk kemudian di jual di pasar. Besar harapannya agar kain itu nantinya segera terjual, agar dia dan anak-anaknya bisa makan. Sambil menyelesaikan pekerjaannya, dalam hati kecilnya dia mengeluh pada Allah perihal pahitnya hidup yang dijalani. Sampai pada saat kain itu jadi, dan harus segera di jual.

Ketika janda itu bersama anak-anaknya pergi ke pasar hendak menjual kain tersebut, di tengah jalan datanglah seekor burung yang dengan tiba-tiba mengambil kain itu lalu membawanya pergi. Serta merta mereka terkejut dan berusaha mengambilnya kembali. Tapi burung itu sudah jauh meninggalkan mereka.

Janda itu membuncah rasa dan mengeluh bahkan sampai menyalahi Allah dengan berkata;

“Allah tidak adil…… Allah tidak adil…… “

Kemudian janda tadi akhirnya pergi menemui Nabi Daud dan mengadukan semua kejadian itu dengan mulut yang masih mengutuk burung yang membawa kainnya pergi. Juga menyalahi Allah yang menurutnya tidak adil.

Kamis, 14 Maret 2013

HADAPKAN WAJAH


Hadapnya wajah itu,
Sedari ragu membuncah ambigu menakar tentu-tentu tertentu,
kebaikan-Mu meliputi kezaliman zaman
yang terbuihkan bodohnya alam igau akhir masa.
Kerusakan demi kerusakan adalah pembenahan-Mu dalam tangis mereka,
saat taklif tertancap dijantung rahim manusia.
Semesta menghadap pada-Mu kala itu

Saat sujud sujud cemas tak mencemaskan yang bersujud,
saat darah darah teralirkan sementara yang menyaksikan
siap menambahkan aliran darah itu,
saat sejuta tangis menggema namun yang terdengar hanyalah tasbih
yang men-tahmidkan tahlil-Mu,
saat ketakutan akan keburukan itu adalah kebaikan,
saat firman berabad silam menjelma nyata tanda penutup massa.
Semesta mesti menghadap pada-Mu kala itu

Minggu, 03 Maret 2013

Tak Ragu Pada-MU

-->
Kini aku tak lagi ragu pada jelaga kelabu yang kerap meremuk-remuk rindu atas salju yang hangat. Semenjak kalimat-demi kalimat ku teguk bagai anggur di musim hujan, tak lagi rasanya kujumpai ocehan menantang yang selalu berhambur bagai demonstrasi massa ketika penguasa tak lagi punya jiwa yang bijaksana. Sedih itu memang sesekali hadir, tapi catatan-Nya telah abadi menghibur kegelapan malam saat para insom tertawa mencatat tanda-tanda waktu yang kian menua.

Lelahpun selalu beriring debu dibawah hamparan biru bak panggung seni dimana burung-burung kecil meliuk-liuk bebas tanpa dosa. Lalu lalang itu merumitkan detik yang tak kan bertahan lama, tapi selalu acuh dan keluh menghiasi putaran lapisan tanah bumi.

Mengapa rasanya semakin janggal bila celoteh itu menggema dan terus menggema dimana-mana, tidakkah mereka merasa damai dengan tangisan embun pagi yang bertasbih penuh cinta?saat matahari kembali dirangkul senja, lalu malam segera siap menjelang membawa bintang-bintang penghias kesenyapan?atau saat altar maut diperdengarkan dan mayat-mayat dibariskan ketika tanah suci dihanguskan?