Senin, 22 Desember 2014

Renungan Hari Ibu

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Bahaz Ibnu Hakim, dari ayahnya, dari kakeknya Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku bertanya: Wahai Rasulullah, kepada siapa aku berbuat kebaikan?. Beliau bersabda: “Ibumu.” Aku bertanya lagi: Kemudian siapa?. Beliau bersabda: “Ibumu.” Aku bertanya lagi: Kemudian siapa?. Beliau bersabda: “Ibumu.” Aku bertanya lagi: Kemudian siapa?. Beliau bersabda: “Ayahmu, lalu yang lebih dekat, kemudian yang lebih dekat.” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi)

Puisiku untuk Mama

Mama,
Tiadalah mampu kami membalas
Segala cinta kasihmu
Sejak kami dalam rahimmu, engkau ikhlas berbagi ...

Nyawa kau pertaruhkan, saat kami akan menyentuh dunia
Rasa kantuk kau tepiskan, saat tengah malam kami menangis mengharap air susumu

Tetes keringat kau biarkan mengalir, demi kau lindungi kami dari teriknya matahari

Kau rawat kami, kau didik kami, kau selamatkan kami

Hingga kami dewasa pun, tak pernah kau meminta kami harus menghitung dan membalas semua jasamu... 

Mama,,
Rasul pun memuliakanmu
Karena engkau  memang Mulia
Karena syurga berada di telapak kakimu

Mama, terima kasih atas segalanya
Maafkan kami yang tak mampu semua cinta kasih, segala kebaikan, dan pengorbananmu untuk kami...

"Robbanaghfir lii wa lii waalidayya wa lilmu’miniina yawma yaquumul hisaab"
“Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat).”
[QS. Ibrahim:41]

"Robbighfir lii wa li waalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo"
“Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku dan kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.”

آمِييْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْن

Selamat mengambil keberkahan dr berbakti pd ibu bapak kita...
Barokallahu fiikum...

22-12-14
Dari BBM Misbah

Sabtu, 15 November 2014

Keyakinan Itu Menjadi Kenyataan

Puisi di bawah ini saya tulis 2 tahun yang lalu, saat itu sedang ada masalah dipekerjaan. Banyak ketidaksesuaian yang terjadi, ketidakstabilan manajemen hampir di setiap divisi membuat jengah rutinitas kerja. Di kala itulah saya tuliskan puisi ini; 

Antara rela dan tidak,
Ku menanti dibibir waktu yang terbelenggu
Detik yang membisu dikesabaranku
Itu bukan tanpa pilu

Dayaku yang tertata bangga
Bukan buih selemah lembaran debu senja
Bukan tanpa rasa yang berharap seiya

Antara rela dan tidak
Peduli ini terletak dikeseimbangan bijaksana
Beda kata pada aturan yang menyiksa
Dan tekanan itu ternyata meng-ambigu reda

Antara rela dan tidak
Bila aku akhirnya luruh dibeda senja
Menapak berputar dilain roda
Masa itu mungkin kan segera

Minggu, 09 November 2014

Maha Mengkhususkan

".... Karena Dialah Allah Yang Maha Mengkhususkan..."

Begitu kira-kira bisik hatiku saat banyak orang yang mempermasalahkan suara ku yang kecil, seorang pemuda dengan suara kemayu kata seseorang dengan mulut jahatnya. Memang suara ku kecil, persis gadis remaja, atau bahkan anak kecil kata seorang mba-mba di ujung telepon sana pada suatu senja.

Kamis, 09 Oktober 2014

Kebersamaan dan Pesan Cinta Ibrahim



Peringatan hari raya Idul Adha tahun ini tak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, hanya saja di beberapa tempat lain terdengar kabar semakin banyak kaum muslimin yang ikut serta berkurban. Bahkan di suatu daerah ada juga umat agama lain yang turut menyumbangkan hewan kurban atas nama persaudaraan dan kebersamaan. Alhamdulillah....

Sedangkan aku dan para sahabat ku yang lain, alhamdulillah masih berkesempatan menyelenggarakan pemotongan hewan kurban meski hanya seekor sapi. Walaupun harga-harga semakin melonjak naik, namun keluhuran niat suci untuk beribadah di jalan Allah mampu mengalahkan nya. Karena pada setiap kebaikan dalam ibadah pasti ada jalan kemudahan, begitulah Islam mengajarkan kami.

 
Pagi itu selepas shalat Idul Adha kami berkumpul, bersilaturahim dan mulai melakukan pemotongan. Bersama bahu-membahu kami belajar tata cara penyembelihan, mulai dari pemotongan yang menurut ku perlu kehati-hatian karena harus menjatuhkan sapi dan mengikatnya serta menenangkannya agar tidak terlalu ngamuk saat di sembelih.



Begitu juga saat menguliti dan memotong serta memisahkan daging dari tulang dan bagian yang lain. Dalam hangat canda tawa, kebersamaan pun mengalir alami. Meski lelah yang sudah pasti, namun dengan semangat berbagi kami jalani sepenuh niat lillahi taala, -Insya Allah-.

Sabtu, 20 September 2014

Istriku dan Anak Kucing Peliharaan



Beberapa waktu lalu kami mengambil seekor anak kucing yang dibuang entah oleh siapa ke tumpukan sampah dekat rumah. Anak kucing itu kotor, kurus, matanya pun penuh belek dan bau nya nyaris seperti sampah. Tapi ngeongan nya yang membuat istriku tak tega, aku pun tak sampai hati mendengarnya. Anak kucing itu akhirnya aku ambil, istriku memberi nya makan. Dan setelah nya aku mandikan dia, ku seka belek-belek matanya, ku jemur agar badan nya hangat dan bulu-bulu nya kembali mengering.


Sebenarnya anak kucing itu punya induk dan empat saudaranya yang lain, tapi sayang ada orang yang tega membuang ke empat anak kucing saudara nya itu. Hanya dia yang luput dan akhirnya dibuang juga di tumpukan sampah dekat rumah yang terpisah dinding agak tinggi. Induknya pun kini entah ke mana. Anak kucing yang malang sebenarnya.


Senin, 08 September 2014

Bukan Saudara, Tapi Keluarga



Baru sekarang saya sempat menuliskan pengalaman itu, saat-saat beberapa minggu yang lalu kami berkumpul berlibur bersama. Indah ukhuwah itu terasa baik sebelum, sepanjang perjalanan, maupun sesudah acara itu terselenggara.


Kami bukan lah saudara kandung, tapi kami adalah keluarga. Lebih tepatnya keluarga seiman, keluarga satu nabi dan agama Islam. Keluarga yang anggotanya saling melengkapi satu dengan yang lain, saling menjaga dan membahagiakan satu dengan yang lain. Insya Allah setidaknya itulah yang terasa saat-saat di sana. Tak lama memang, hanya dua hari satu malam. Hanya sekedar berkumpul, bermain, berbagi cerita dan saling nasehat menasehati bersama. 



Di sana,
Atmosfir bumi puncak mampu sejenak merontokkan dari kepenatan agenda-agenda yang insya Allah dalam rangka kebaikan yang selama ini kami lakukan. Agenda menata diri pribadi dan sosial, menata niat dan keyakinan, agenda meluruskan amanah Allah, sebagaimana khalifatul fil ardh yang Dia Titahkan pada manusia.


Harum semilir oksigen di dataran tinggi di sana, telah mengisahkan jejak-jejak kenangan persaudaraan. Jejak-jejak kedekatan emosi spirit ukhuwah yang merupakan salah satu hadiah indah dari Allah. Sebagaimana dalam firman-Nya;

Selasa, 19 Agustus 2014

Kejutan Penuh Makna

Selepas lebaran adalah waktu dimana semuanya harus dimulai dari awal kebersihan hati, kemantapan langkah dan gelora semangat baru tuk sambut hari-hari melelahkan dengan rutinitas pekerjaan yang juga kembali terkadang membosankan. Seperti lembaran kertas putih yang sedianya siap diisi berbagai cerita semangat baru, terlebih di tempat kerja yang memang menghabiskan lebih banyak waktu dalam sehari ketimbang di rumah.



Tapi hari itu, Senin Empat Agustus Dua Ribu Empat Belas adalah hari yang mungkin paling unik. Di hari pertama masuk kerja kembali setelah liburan lebaran, ternyata juga adalah hari terakhir ku bercengkerama dengan pekerjaan dan seluruh lingkungannya. Baru saja aku sampai lobi kantor, setelah bersilaturahim dengan teman-teman yang ku jumpai. Ada yang berpesan aku di panggil menghadap manager operasional kantor jam sepuluh siang hari itu.

Tanpa ingin berpikir negatif, selepas shalat dhuha ku jumpai mereka yang katanya memanggilku. Diruangan itu ternyata aku telah ditunggu sekitar lima orang, mereka bisa dibilang para pejabat kantor operasional tempat dimana aku bekerja.

Setelah berjabat tangan dan saling maaf memaafkan sebagai tanda silaturahim lebaran, aku dipersilahkan duduk di depan mereka. Kejadian itu persis seperti para hakim yang sedang mempersilahkan duduk seorang tersangka. Saat itu aku mulai bertanya-tanya dalam hati, ada apa gerangan ini.

Dengan hati-hati secara bergantian mereka menjelaskan maksud di panggilnya aku menghadap, mereka pun menanyai ku ini dan itu, menunjukkan ku ini dan itu, meminta saran ku tentang ini dan itu. Hingga setelah sekitar satu jam aku di introgasi mereka, bisa ku simpulkan aku akan segera kehilangan pekerjaan. Mereka memecat ku karena ke khilafan yang termanfaatkan dengan baik oleh nya, dan hanya karena update-an status-status ku di jejaring sosial yang mereka anggap memprovokasi rekan-rekan kantor. Sejauh mana aku membela diri, semakin jauh pula mereka mencari-cari alasan sehingga aku seperti layaknya benar-benar tersangka.

Kamis, 07 Agustus 2014

Silaturahim Itu Indah

Silaturahim pada dasarnya merupakan bentuk kasih sayang dalam perwujudan saling mengunjungi, saling berbagi, saling merasakan, saling erat berjabat tangan dan segala macam kebaikan lainnya ketika berkumpul bersama-sama orang-orang yang kita cintai, sayangi serta hormati. Keluarga adalah yang paling utama dalam hal ini.



Salah satu indahnya lebaran Idul Fitri adalah, kita bisa bertemu, berbagi, bercanda tawa, berjabat tangan erat hingga berpelukan mesra bersama keluarga yang mungkin selama ini terpisahkan jarak dan terjauhkan dari komunikasi. Kita bisa kembali saling mengenal, saling merasakan kebahagiaan yang di rasa satu sama lain. Dalam balutan hari fitri yang indah, meski dalam rangkai hangat jadwal berkunjung yang padat, kita masih bisa tersenyum bersyukur atas apa yang telah Allah berikan untuk kita.



Alhamdulillah.... ya, alhamdulillah inilah Islam agama yang mengatur seindah-indahnya hidup. Keyakinan yang mendidik secermat-cermatnya waktu, soul mindset yang menyejukkan senyaman-nyaman nya jiwa.


Rabu, 06 Agustus 2014

Sensasi Mudik Lebaran

Lebaran kemarin adalah pertama kalinya saya dan istri mudik menggunakan motor yang baru kami beli beberapa bulan sebelumnya. Motor Mio tahun 2006 itu masih lumayan bisa saya ajak berlari diantara pemudik lainnya di jalur pantura jawa.



Malam sabtu bada taraweh, tanggal 25 Juli 2014 adalah start awal kami memulai perjalanan mudik menuju kampung halaman saya, Majalengka Jawa Barat. Malam itu sempat turun hujan mengiri kepulangan puluhan bahkan mungkin ratusan pemudik yang juga menggunakan sepeda motor. Macet yang sudah tentu harus sabar dilalui, kantuk dan lelah yang juga pasti menghampiri. Ke semuanya adalah suka duka setahun sekali yang semua orang mampu menghadapinya, bahkan dengan canda tawa.



Dengan kehati-hatian menyetir dan kesabaran melewati macet demi macet perjalanan, alhamulillah kami sampai juga di kampung halaman setelah 17 jam dilalui.


Terima kasih ya Allah..... Engkaulah Pengatur terindah Yang Maha Melindungi hamba-hamba-Mu.

Kamis, 27 Februari 2014

Ngeri Jadi Syi’i


Ini kisahku sekitar tujuh tahun yang lalu,
Di waktu sedang semangat-semangatnya mencari keilmuan Islam, beberapa pergerakan keislaman yang pernah saya ikuti memiliki sebutan khusus untuk para pengikutnya. Seperti syabab sebutan untuk pengikut Hizbut Tahrir. Saya pun pernah menjadi syi’i, sebutan untuk pengikut ajaran syiah.

Berangkat dari rasa keingintahuan dan amanah ibunda, saya ikut dalam beberapa pengajian rutin syiah bersama ayah yang sudah lebih dulu menjadi syi’i. Padahal saat itu saya pun tengah mencoba aktif menjadi seorang syabab bersama beberapa teman Hizbut Tahrir, banyak dari mereka yang melarang dan mewanti-wanti agar saya berhati-hati. Tapi itu malah membuat saya makin penasaran akan ajaran syiah itu sendiri.

Kurang lebih dua tahun saya mengikuti pengajian dan acara-acara syiah, mulai dari perayaan asyuro di Bandung dan Jakarta, hingga ritual malam nisfu syaban di ICC Warung Buncit pun pernah saya ikuti. Sampai-sampai saya pun pernah diberi beasiswa S1 dari mereka, pada Islamic College for Advanced Studies Paramadina Jakarta. Dan saya lolos seleksi hingga sempat kuliah di fakultas filsafat pada institusi itu meski hanya satu tahun.

Sebelumnya saya kurang banyak mengatahui kenapa syiah dianggap sebagai aliran sesat. Awalnya yang saya mengerti adalah bahwa mereka sekumpulan orang yang mengajarkan kearifan dan kebijaksanaan ilmu dari gudang ilmu yang di miliki Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Sapintas jika berdiskusi dengan syi’i yang sudah lama, mereka seolah memiliki gaya bahasa yang cerdas dan penjabaran yang logis. Namun dibalik itu, ternyata tidak semua kerang dalam lautan samudera berisi mutiara. Yang ini isinya malah kotoran berkerak yang di amini selama beberapa abad hingga tumbuh subur menjamur.

Saat saya mengikuti perayaan asyuro pertama kali di Bandung kalo gak salah sekitar tahun 2006 lalu, sempat kaget juga karena melihat banyaknya syi’i yang berkumpul. Saya kira tadinya ajaran ini hanya terbatas kalangan tertentu dan hanya diikuti sedikit orang, tapi ternyata tidak. Paling tidak, kurang lebih sekitar 150 orang memadati acara tersebut. Dengan pakaian serba hitam, ada pula yang ditambah corak warna merah darah bertulis arab Labbaika ya Husain.

Kamis, 16 Januari 2014

Beginilah Kalo Pemimpin Gak Ngaji

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah,”Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia. Tapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya…” (QS. Al Baqarah: 219)

Pada tanggal 6 Desember 2013 yang lalu telah dikeluarkan Perpres No. 74 tahun 2013 tentang Pengendalian dan Pengawasan Minuman Beralkohol, yang ditandatangani langsung oleh Presiden. Di dalam nya termaktub pengklasifikasian minuman beralkohol menjadi tiga jenis, sesuai dengan besaran kadar alkohol yang dikandungnya. Sayangnya, ketiga jenis minuman alkohol tersebut masih bisa ditemui pada tempat-tempat tertentu.

Walaupun konteks nya harus memenuhi persyaratan, namun peraturan “pengendalian” ini lebih condong pada pelegalisasian ilegal. Kenapa ? karena masih terdapat potensi negosiasi antara pemangku kebijakan daerah (Bupati/Walikota) dengan para pengusaha miras. Apalagi hal ini seolah menjadi sah ketika penetapan pembatasan pengedaran miras dikembalikan kepada Bupati/Walikota/Gubernur sesuai karakteristik budaya lokal setempat.

Anas r.a. berkata, "Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. telah melaknat 10 orang yang berkaitan dengan arak; pembuatnya, pengedarnya, peminumnya, pembawanya, pengirimnya, penuangnya, penjualnya, pemakan hasilnya, pembayarnya dan pemesannya." (Riwayat al-Tirmizi no 1295, Abu Daud no 3674, Ibn Majah no 3381 dan Ahmad no 316)

Pak Ahok, Mari Kita Lokalisasi !

Pak Ahok yang terhormat,
Beberapa waktu yang lalu saya menyimak rencana bapak yang ingin melokalisasi prostitusi yang ada di DKI, statement itu mengingatkan saya pada era Gubernur Ali Sadikin yang melokalisir para PSK di kawasan Kramat Tunggak, Jakarta Utara. Waktu itu pertimbangan beliau adalah agar para PSK mudah dibina dan tidak berkeliaran sembarangan tanpa pengawasan. Tapi itu terjadi di masa tahun 1980-an, yang pastinya jauh lebih terbelakang dari masa-masa kini di mana kecanggihan teknologi telah berhasil membuat manusia modern ter-kebiri.

Sejalan dengan rencana bapak, ternyata menteri kesehatan RI dan persatuan gereja indonesia juga sependapat dengan apa yang bapak usulkan. Meski pasti akan banyak pertentangan yang terjadi, namun langkah bapak adalah salah satu wujud kemanusiaan yang tidak manusiawi. Pengulangan kebijakan seperti yang sudah terjadi di era Ali Sadikin, jika pun terlaksana itu menandakan kurang cerdas dan kreatifnya pemerintahan yang sekarang dalam menangani masalah turun-temurun di DKI.

Jika saya boleh berkomentar perihal tersebut, akan saya katakan “mari Pak kita lokalisasi” ide-ide bapak yang berkeliaran sembarangan. Agar tidak sampai pada kebijakan menyesatkan yang pasti akan lebih menyengsarakan. Mungkin pelokalisasiannya adalah melalui beberapa langkah berikut;