Kamis, 27 Februari 2014

Ngeri Jadi Syi’i


Ini kisahku sekitar tujuh tahun yang lalu,
Di waktu sedang semangat-semangatnya mencari keilmuan Islam, beberapa pergerakan keislaman yang pernah saya ikuti memiliki sebutan khusus untuk para pengikutnya. Seperti syabab sebutan untuk pengikut Hizbut Tahrir. Saya pun pernah menjadi syi’i, sebutan untuk pengikut ajaran syiah.

Berangkat dari rasa keingintahuan dan amanah ibunda, saya ikut dalam beberapa pengajian rutin syiah bersama ayah yang sudah lebih dulu menjadi syi’i. Padahal saat itu saya pun tengah mencoba aktif menjadi seorang syabab bersama beberapa teman Hizbut Tahrir, banyak dari mereka yang melarang dan mewanti-wanti agar saya berhati-hati. Tapi itu malah membuat saya makin penasaran akan ajaran syiah itu sendiri.

Kurang lebih dua tahun saya mengikuti pengajian dan acara-acara syiah, mulai dari perayaan asyuro di Bandung dan Jakarta, hingga ritual malam nisfu syaban di ICC Warung Buncit pun pernah saya ikuti. Sampai-sampai saya pun pernah diberi beasiswa S1 dari mereka, pada Islamic College for Advanced Studies Paramadina Jakarta. Dan saya lolos seleksi hingga sempat kuliah di fakultas filsafat pada institusi itu meski hanya satu tahun.

Sebelumnya saya kurang banyak mengatahui kenapa syiah dianggap sebagai aliran sesat. Awalnya yang saya mengerti adalah bahwa mereka sekumpulan orang yang mengajarkan kearifan dan kebijaksanaan ilmu dari gudang ilmu yang di miliki Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Sapintas jika berdiskusi dengan syi’i yang sudah lama, mereka seolah memiliki gaya bahasa yang cerdas dan penjabaran yang logis. Namun dibalik itu, ternyata tidak semua kerang dalam lautan samudera berisi mutiara. Yang ini isinya malah kotoran berkerak yang di amini selama beberapa abad hingga tumbuh subur menjamur.

Saat saya mengikuti perayaan asyuro pertama kali di Bandung kalo gak salah sekitar tahun 2006 lalu, sempat kaget juga karena melihat banyaknya syi’i yang berkumpul. Saya kira tadinya ajaran ini hanya terbatas kalangan tertentu dan hanya diikuti sedikit orang, tapi ternyata tidak. Paling tidak, kurang lebih sekitar 150 orang memadati acara tersebut. Dengan pakaian serba hitam, ada pula yang ditambah corak warna merah darah bertulis arab Labbaika ya Husain.