Selasa, 31 Maret 2015

Ku Panggil Kau Ayah

Baru sekarang kupaksakan diri untuk menulis ini semua, kenangan itu begitu pedih bila hanya sekedar ku simpan sendiri dalam benak. Sungguh waktu yang tak pernah terduga sebelumnya, janji itu nyata dan tak mulus tertempuh olehku.

Semua berawal dari mertuaku, ayah. Begitu biasa ku panggil dia. Dulu aku pernah berjanji pada diriku dan tuhanku, sebelum aku menikahi anaknya. Aku ingin mencoba mengajak ayah masuk dalam kebaikan agamaku, agama anaknya, agama Islam. Ya..... ayah memang berlainan agama dengan istri dan anak-anaknya, dia seorang nasrani yang memeluk agama itu karena simpatinya pada pertolongan seorang pendeta ketika dia sedang terpuruk puluhan tahun yang lalu.

Allah Yang Maha Mendengar, Mengabulkan janji hatiku. Setahun setelah aku menikahi anaknya, Allah menakdirkan ayah harus ikut dengan ku. Maka selama kurang lebih empat tahun pernikahan kami, ayah mertuaku selalu bersama-sama kami. Meski berbeda kontrakan, karena ayah selalu enggan diajak tinggal bersama. Namun kehidupan kami tetap rukun, istriku tetap menghormatinya meski dia termasuk anak yang sedari kecil serasa “jauh” dengan ayahnya itu.

Dalam perjalanan waktu yang kami habiskan bersama, suka duka dan pertengkaran-pertengkaran kecil yang terjadi, selama empat tahun, semua berlalu seakan begitu cepat. Hingga di awal tahun 2015 kemarin ayah menghembuskan nafas terakhirnya di kamar kontrakannya dalam keadaan sendirian, sedangkan kami sedang berada di luar kota pada waktu itu.