Senin, 28 Desember 2015

Kini Bermainlah Sepuasmu


Kini hanya tinggalah bayangan mu, terlalu cepat waktu indah itu pergi berlalu. Dihari-hari saat kita bersama, di saat kau bercanda ria membuatku tertawa, saat sejenak penat terlepas sudah dengan tingkah mu, kini tiada lagi. Tak banyak yang mengerti arti kebersamaan yang melahirkan cinta dan kepedihan atas kepergiannya, baik makhluk ataupun waktu.


Makhluk kecil yang lucu,
Dengan apa harus kulukiskan nadi hati yang sejenak terhenti, bayangan itu hadir berpendar ke sana-kemari. Hinggap pergi dilain tempat yang dulu kau sukai, yang dulu kau diami, yang dulu kau jelajahi, yang dulu kau ada disitu.





Jumat, 11 Desember 2015

Dari Bagian Timur Pulau Jawa


Inilah sepenggal kisah yang tersisa diantara rindu akal memikirkan kesejukan hidup dalam selimut kebersamaan. Tiada yang istimewa memang dari perjalanan kali ini, selain ceceran hikmah yang sengaja Allah hantarkan pada kami untuk sejenak membersihkan kepenatan hati dari kilau dunia. Perjalanan yang melahirkan pelajaran, barangkali itu yang memang cocok menggambarkan suasana batin saat akhir perjalanan kemarin.

Berawal dari kesepakatan kami dengan pihak mereka disana, hingga pada awal November 2015 kami berangkat dengan kereta api ekonomi jurusan Malang. Belum pernah aku rasakan perjalanan sejauh ini sebelumnya, berangkat Kamis sore tapi sampai tujuan baru pada Jum’at siang nya. Luar biasa jauh…… tapi di sinilah awal mula kisah dari bagian Timur pulau Jawa terceritakan.



Kami tiba di stasiun Malang Kotalama kurang lebih pukul setengah Sembilan pagi, disana sudah menunggu dua orang utusan mereka yang akan menghantarkan kami ke lokasi tujuan. Sebelum mulai jalan, ternyata kami lupa membeli tiket pulang. Sedangkan loket tiket stasiun belum dibuka, sementara ketika kami mau beli di Alfamart pun ternyata tiket sudah habis untuk keberangkatan hari minggu. Sempat ada panjang diskusi disana, pasalnya salah satu dari kami harus mengajar privat pada hari senin siang nya. 

Setelah cukup lama, kami putuskan mencari alternatif tiket dari keberangkatan stasiun kota lain yang terdekat dengan lokasi. Lelah mencari, dalam perjalanan menuju lokasi selain tubuh yang letih karena jauhnya perjalanan, pikiran kami disibukkan dengan tiket pulang yang belum menemui titik terang. Tapi Pak Ali, supir yang mengantar kami menasehati agar tetap tenang dan selalu berbaik sangka. Dan dia pun sampai memastikan bahwa akan ada jalan terbaik sebagai solusi dari Allah. Pak Ali ini mantap mengajarkan kami tentang kepasrahan pada Allah selama perjalanan, selain dia menjelaskan nama perkumpulan mereka beserta visi misinya. Dalam hal menyupir pun, Pak Ali cukup berani salip menyalip. Ternyata belakangan kami dengar bahwa dia memang mantan preman.
                      
Setibanya di lokasi, sekitar jam setengah sebelasan kami melihat hal yang baru. Dimana biasanya saat ada acara-acara panitia wanita sibuk menyiapkan makanan. Tapi tidak di tempat ini, Pak Ali menjelaskan bahwa di sana mereka memuliakan para wanita baik peserta maupun panitia dengan membebastugaskan mereka dari masak memasak. Tapi sebagai gantinya, para lelaki lah yang memasak untuk memenuhi kebutuhan makanan disana. Hal ini mereka lakukan dengan alasan agar para wanitanya fokus pada pembinaan yang di adakan selama acara di sana berlangsung.