Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Agustus 2025

Syukron Ray, Terima Kasih Re

 Syukron Ray,

11 tahun yang indah sudah jadi bayangan kenangan yang tak bisa diulang. Saat ini waktu selama itu ternyata seolah hanya mimpi kemaren sore dalam ingatan yang terbatas.

Di masa bertumbuh aku mengenal mu dulu, hitam putih bukan warna yang pantas dipersoalkan karena semua tetap indah penuh hikmah.

Meskipun akhirnya kita memilih jalan berbeda, syukron ya Ray sudah menyisakan kenangan untuk aku semangat mengejar akhirat. Pasti semua kebaikan yang pernah ada diantara kita suatu saat Allah balas pada diri masing-masing kita dengan balasan yang sempurna.

 


Terima kasih Re,

Untuk 3 tahun penuh warna yang membahagiakan. Walaupun pada akhirnya kamu tidak memilih ku, tapi dunia kita saat bersama adalah hal baru buat ku kemaren.

Sampai saat ini kamu masih jadi satu-satunya wanita yang pernah membuat aku jadi lelaki sempurna. Meskipun banyak cerita mengecewakan pada akhirnya, tapi rasa kecewa tak bisa menghapus jejak pelajaran berharga.

Dari kamu pandangan ku bertambah segar tentang dunia, membuat ku semangat mengejar nya. terima kasih atas semua kesempatan yang membuat aku merasa seperti seorang raja. Pasti Tuhan mendatangkan lebih banyak kesempatan lain yang jauh lebih indah dan lebih sempurna untuk kita walau tak bisa bersatu.

Saat ini aku rindu kalian, ingat kebersamaan di masa saat-saat bersama kalian. Moga kalian selalu sehat, dimudahkan segala urusan nya dan selalu dibahagiakan hati nya dengan cinta dari siapa pun.



Syukron Ray, Terima Kasih Re

Kamis, 16 Juni 2016

Jangan Jadi Ular, Jadilah Kupu-kupu


Jangan Jadi Ular, Jadilah Kupu-kupu


Karena kesabaran adalah pergerakan, karena kesabaran adalah perbuatan. Maka jangan jadi ular, jadilah kupu-kupu di ramadhan kali ini.


Tak terasa kini sudah sepuluh hari pertama ramadhan 1437 H berlalu. Ramadhan adalah bulan terbaik umat islam yang di dalam nya terdapat banyak sekali keberkahan dan keberlimpahan pahala dan rezeki. Sejarahpun mencatat ramadhan sebagai bulan pendulang kemenangan bagi umat islam. Bulan di mana para penggiat ibadah bersemangat menuju ampunan, bulan dimana umat ini menjadi generasi tangguh yang terlatih sabar juga dekat pada kitab penuntun arah kehidupan. Al-Qur’anul Karim.

Berpuasa sejatinya juga adalah amanah agama-agama terdahulu yang tersempurnakan dengan kedatangan islam dan ajarannya. Banyak literatur selain islam yang memang menganjurkan untuk berpuasa, karena hasilnya bukan hanya akan tangguh secara spiritual dari sisi kesehatan pun akan mengalami perbaikan yang positif dengan berpuasa.

Berpuasa sesungguhnya adalah menahan diri tapi tetap bergerak dalam kesabaran. Menahan diri dari segala yang tadinya halal menjadi haram karena aturan syariat agama telah menetapkan seperti itu. Apalagi dari yang haram, sama sekali harus ditinggalkan. Bergerak dalam kesabaran sujud-sujud panjang di tiap malam saat tarawih, tahajud, maupun witir. Bergerak dalam langkah kesabaran menuju masjid di gelap nya hari subuh pagi. Bergerak dengan sabar tapi pasti untuk melindungi agama ini dari rongrongan para pendengki.

Maka jangan jadi ular yang sabar dalam gerakannya menanti kulit berganti tapi hakikatnya dia tetaplah ular, hewan panjang melata yang beracun mematikan. Tapi berusahalah bergerak cantik dalam sangkar ramadhan seperti ulat dalam cangkang kepompong. Dengan gerakan dzikir dan tilawah, dengan doa dan langkah nyata wujudkan syariah. Agar setelah masanya tiba, kemenangan penantian bagi seorang hamba adalah gelar takwa, gelar yang lebih mulia dari para sarjana dan professor manapun yang hanya bisa menghina aturan agama. Sebagaimana ulat yang tadinya adalah makhluk menjijikan berubah menjadi seekor kupu-kupu cantik yang dapat terbang bebas di angkasa.

Jumat, 28 Februari 2014

Ngeri Jadi Syi’i


Ini kisahku sekitar tujuh tahun yang lalu,
Di waktu sedang semangat-semangatnya mencari keilmuan Islam, beberapa pergerakan keislaman yang pernah saya ikuti memiliki sebutan khusus untuk para pengikutnya. Seperti syabab sebutan untuk pengikut Hizbut Tahrir. Saya pun pernah menjadi syi’i, sebutan untuk pengikut ajaran syiah.

Berangkat dari rasa keingintahuan dan amanah ibunda, saya ikut dalam beberapa pengajian rutin syiah bersama ayah yang sudah lebih dulu menjadi syi’i. Padahal saat itu saya pun tengah mencoba aktif menjadi seorang syabab bersama beberapa teman Hizbut Tahrir, banyak dari mereka yang melarang dan mewanti-wanti agar saya berhati-hati. Tapi itu malah membuat saya makin penasaran akan ajaran syiah itu sendiri.

Kurang lebih dua tahun saya mengikuti pengajian dan acara-acara syiah, mulai dari perayaan asyuro di Bandung dan Jakarta, hingga ritual malam nisfu syaban di ICC Warung Buncit pun pernah saya ikuti. Sampai-sampai saya pun pernah diberi beasiswa S1 dari mereka, pada Islamic College for Advanced Studies Paramadina Jakarta. Dan saya lolos seleksi hingga sempat kuliah di fakultas filsafat pada institusi itu meski hanya satu tahun.

Sebelumnya saya kurang banyak mengatahui kenapa syiah dianggap sebagai aliran sesat. Awalnya yang saya mengerti adalah bahwa mereka sekumpulan orang yang mengajarkan kearifan dan kebijaksanaan ilmu dari gudang ilmu yang di miliki Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Sapintas jika berdiskusi dengan syi’i yang sudah lama, mereka seolah memiliki gaya bahasa yang cerdas dan penjabaran yang logis. Namun dibalik itu, ternyata tidak semua kerang dalam lautan samudera berisi mutiara. Yang ini isinya malah kotoran berkerak yang di amini selama beberapa abad hingga tumbuh subur menjamur.

Saat saya mengikuti perayaan asyuro pertama kali di Bandung kalo gak salah sekitar tahun 2006 lalu, sempat kaget juga karena melihat banyaknya syi’i yang berkumpul. Saya kira tadinya ajaran ini hanya terbatas kalangan tertentu dan hanya diikuti sedikit orang, tapi ternyata tidak. Paling tidak, kurang lebih sekitar 150 orang memadati acara tersebut. Dengan pakaian serba hitam, ada pula yang ditambah corak warna merah darah bertulis arab Labbaika ya Husain.

Kamis, 16 Januari 2014

Beginilah Kalo Pemimpin Gak Ngaji

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah,”Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia. Tapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya…” (QS. Al Baqarah: 219)

Pada tanggal 6 Desember 2013 yang lalu telah dikeluarkan Perpres No. 74 tahun 2013 tentang Pengendalian dan Pengawasan Minuman Beralkohol, yang ditandatangani langsung oleh Presiden. Di dalam nya termaktub pengklasifikasian minuman beralkohol menjadi tiga jenis, sesuai dengan besaran kadar alkohol yang dikandungnya. Sayangnya, ketiga jenis minuman alkohol tersebut masih bisa ditemui pada tempat-tempat tertentu.

Walaupun konteks nya harus memenuhi persyaratan, namun peraturan “pengendalian” ini lebih condong pada pelegalisasian ilegal. Kenapa ? karena masih terdapat potensi negosiasi antara pemangku kebijakan daerah (Bupati/Walikota) dengan para pengusaha miras. Apalagi hal ini seolah menjadi sah ketika penetapan pembatasan pengedaran miras dikembalikan kepada Bupati/Walikota/Gubernur sesuai karakteristik budaya lokal setempat.

Anas r.a. berkata, "Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. telah melaknat 10 orang yang berkaitan dengan arak; pembuatnya, pengedarnya, peminumnya, pembawanya, pengirimnya, penuangnya, penjualnya, pemakan hasilnya, pembayarnya dan pemesannya." (Riwayat al-Tirmizi no 1295, Abu Daud no 3674, Ibn Majah no 3381 dan Ahmad no 316)

Selasa, 24 Desember 2013

Siapa Bilang Golput Gak Boleh !

Mau golput ? silahkan saja,
Toh di Indonesia ini kan hak asasi di junjung tinggi, dan golput adalah salah satu bagian dari hak asasi manusia juga. Jadi sah-sah aja kalo dalam pemilihan calon presiden pun ada yang golput, itu hak masyarakat.

Mau golput ? silahkan saja,
Karena golput juga kan merupakan pilihan bagi mereka yang kurang pede bahwa perubahan kebaikan akan muncul bersama usaha pengubahan keadaan buruk itu sendiri. Selama tidak ada usaha untuk mengubah kerusakan-kerusakan di pemerintahan, maka selamanya pemerintahan akan tetap rusak. Dan golput adalah bagian yang ikut menyumbang kerusakan kelakuan pemerintah.

Mau golput ? silahkan saja,
Tapi tau gak, di negara Suriah sana ketika yang berkuasa adalah orang yang mementingkan hajat kelompok dan ajaran nya, mereka dengan tega membunuh orang-orang di luar kalangan mereka. Denger-denger sih mereka islam juga tapi beda paham gitu, jadi masyarakat yang gak sepaham dibuat menderita bahkan di siksa. Gak beda jauh lah sama di Iran sana, masyarakat sunni terus di intimidasi oleh pemerintahan syiah.

Kamis, 12 Desember 2013

Wasilah Itu Bernama Bendera

Pada awal tahun ke-8 Hijriyah, Rasululalh SAW menyiapkan pasukan tentara untuk memerangi tentara Romawi di Muktah. Beliau mengangkat Zaid bin Haritsah menjadi komandan pasukan. Rasulullah berpesan, "Jika Zaid tewas atau cidera, komandan digantikan Ja’far bin Abi Thalib. Seandainya Ja’far tewas atau cidera pula, dia digantikan Abdullah bin Rawahah. Dan apabila Abdullah bin Rawahah cidera atau gugur pula, hendaklah kaum muslimin memilih pemimpin/komandan di antara mereka."

Setelah sampai di Muktah, terjadilah pertempuran yang tidak seimbang, antara tentara Romawi dengan kekuatan 100.000 pasukan inti yang terlatih berhadapan tentara kaum Muslimin yang hanya berkekuatan 3.000 pasukan di bawah pimpinan Zaid bin Haritsah.

Dalam pertempuran itu ketika Zaid gugur sebagai syahid, Ja’far segera menyambar bendera Rasulullah sebagai tanda kepemimpinan kini ada padanya. Begitupun saat satu per satu tangan Ja’far putus ditebas musuh hingga syahid, secepat kilat Abdullah bin Rawahah merebut bendera komando dan melanjutkan pertempuran. Walaupun pada akhirnya beliau pun syahid di medan jihad, menyusul dua sahabat nya yang lain.

Selasa, 26 Maret 2013

Saya Bangga Membenci PKS


Bagi saya politik itu kotor, kejam, menghalalkan segala cara dan jauh dari kebaikan. Anggapan itu saya dapat ketika masih sekolah. Dalam pandangan saya mereka yang terlibat dikancah perpolitikan, sudah pasti akan melakukan berbagai cara agar berhasil meraih suara demi pemimpin-pemimpin mereka.

Apalagi jika hal itu dibalut dengan embel-embel agama, rasanya tidak pantas kemurnian ajaran agama harus disandingkan dengan perpolitikan yang penuh intrik. 
Seperti beberapa partai politik yang mengatasnamakan agama, mengatasnamakan dakwah.

Yang paling terlihat penyandangan lebel agama, ternyata ada pada PKS. Yang menamakan partai islam, partai dakwah. Yang juga katanya di dalamnya ada pembinaan yang lain dari pada partai lainnya. Hal ini membuat saya makin membenci perpolitikan dalam negeri. 

Sampai sejak saya berhak memilih dalam suatu pemilihan, saya tidak pernah datang mencoblos. Karena bagi saya semua partai sama saja, sama-sama buaya pemerintahan yang kan mencaplok mangsanya ketika sudah dipercaya.

Sabtu, 23 Maret 2013

Mari Belajar Bijak Memimpin


Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian cintai dan mereka juga mencintai kalian, kalian mendoakan kebaikan untuk mereka dan mereka juga mendoakan kebaikan untuk kalian. Dan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah yang kalian benci dan mereka juga membenci kalian, kalian melaknat mereka dan mereka juga melaknat kalian. Kami bertanya, “Wahai Rasulullâh, tidakkah kita melawan mereka dalam keadaan demikian.” Beliau  menjawab, “Tidak, sepanjang mereka masih menegakkan sholat. Ingatlah, siapa yang dipimpin oleh seorang pemimpin lalu ia melihatnya melakukan sesuatu dari kemaksiatan kepada Allah, maka handaknya ia benci kepada maksiat yang dia lakukan dan jangan sekali-kali membatalkan ketaatan kalian kepada mereka. (Hadits ‘Auf bin Mâlik radhiyallâhu ‘anhu dalam riwayat Muslim)

Memimpin sebenarnya adalah seni mencintai yang meliputi kekuatan sabar mendengarkan, ketajaman hati dalam memahami yang kesemuanya harus terimplikasi dalam kebijaksanaan untuk menyejahterakan. Untuk itu hanya orang-orang tangguh berjiwa besar yang akan mampu berkuasa bersama cinta.



Karena memimpin berarti mencintai, maka menurut M. Anis Matta, Lc dalam Serial Cinta-nya; cinta mengajarkan kita untuk memperoleh hak-hak kita dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban kita kepada orang lain. Itulah yang mempertemukan dua kutub jiwa. Pertemuan itulah yang membuat kita genap-menggenapi, dan saling menyempurnakan karya kehidupan. Jadi bukan karena cinta buta penuh ambisi dengan menghalalkan segala cara yang seharusnya diterapkan pemimpin sejati, tapi cinta yang membersamakan rasa pemahaman.

Sejarah pernah mencatat kearifan seorang pemimpin sejati di zaman sahabat nabi, dialah Umar Bin Khatab. Seorang khalifah yang pernah memanggul karung makanan dengan pundaknya sendiri untuk diberikan pada salah satu rakyatnya yang kelaparan. Begitulah jalan cinta mengajarkan seorang pemimpin, agar sabar mendengar lalu dengan nurani melangkah memahami.

Rabu, 13 Februari 2013

VD = Valentine Death


VD = Valentine Death



Barangsiapa menyerupai suatu kaum, berarti ia termasuk dalam golongan kaum tersebut”  (HR. Ibnu Abbas)


Hari kasih sayang yang di gembar-gemborkan jatuh pada tanggal 14 Februari, tak lebih hanyalah tipu daya yang lahir dari persekongkolan politik kaisar Romawi berabad-abad silam.

Pada abad ke 16-17 silam, orang-orang Romawi kuno memiliki salah satu upacara ritual penghormatan pada dewa alam (Lupercus). Saat itu di sana amat kental dengan paganisme, hingga sebagian mereka memeluk agama nasrani. Sampai pada suatu masa di mana telah banyak rakyat Romawi yang memeluk nasrani, namun para pembesar kerajaan masih suka melakukan ritual-ritual pagan. Kemudian keadaan bergejolak, banyak rakyat menentang apa yang dilakukan oleh lingkungan kerajaan.

Di saat itulah terjadi konspirasi budaya, di mana untuk menenangkan rakyat Romawi dan demi keberlangsungan ritual penghormatan pada Lupercus. Akhirnya Paus Gelasius I pada masa itu menggemakan ajakan untuk menghormati jasa seorang pendeta yang dipercaya amat taat menyebarkan agama nasrani. Yang mati di eksekusi oleh raja Claudius II pada tanggal 14 Februari 270 m. Dan pendeta itu bernama Valentine yang ternyata memiliki banyak pengikut. Sejak saat itu para pengikut Valentine selalu mengadakan perayaan penghormatan atas jasa-jasanya pada tanggal di mana dia di eksekusi.

Hingga sampai saat ini, 14 Februari dikenal sebagai hari kasih sayang. Hari di mana para pengikut Valentine merasakan indahnya jasa perjuangan pendeta itu dalam menyebarkan agama nasrani. Yang sebenarnya di belakang semua itu, lebih menjurus pada perayaan penghormatan pada dewa alam (Lupercus).

Lalu pantaskah orang-orang muslim, yang mengaku Islam dan bertuhankan Allah Azza wa Jalla, turut serta dalam perayaan semacam itu? Tidakkah malu pada Allah yang kasih sayang-Nya tak terbatas hari dan tanggal?

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra : 36)


“.... Sebenarnya bagi orang kafir, tipu daya mereka itu dijadikan terasa indah dan mereka dihalangi dari jalan yang benar. Dan barangsiapa di sesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun yang memberi petunjuk baginya. Mereka mendapat siksaan dalam kehidupan dunia, dan azab akherat pasti lebih keras. Tidak ada seorangpun yang melindungi mereka dari azab Allah.” (QS. Ar-Rad : 33-34)


INGAT!!! Ini bukan hanya sekedar cokelat, bunga atau kata-kata manis pujangga. Tapi ini adalah prinsip orang bertakwa.

SAY NO TO VALENTINE DAY


“Hanya ada dua jenis manusia yang merayakan valentine day; KAPITALIS yang KEJI dan ORANG BODOH yang TERTINDAS.” (Ust. Shofwan Al-Banna)




13 Februari 2013; 3:30 WIB
Share coz care, -MK.

Jumat, 04 Januari 2013

KARENA SABAR ITU SIBUK


Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta diguncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS. al-Baqarah [2]: 214)



Sejarah menceritakan bagaimana seorang manusia yang tadinya kaya dan memiliki keluarga utuh, tetap tenang menjalani hari meski setan telah berhasil mencerai-beraikan keluarganya. Dia pun selalu sibuk memindahkan puluhan ulat yang menempel ditubuhnya saat hendak beribadah pada Allah, namun kesibukannya itu tak membuatnya mengeluh apalagi menyalahi nasib. Dia juga selalu sibuk mengadukan semua pada Allah, hingga kisahnya abadi tercatat.

“Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru Tuhan-nya; “Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan. (Allah berfirman): “Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum. Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai fikiran. Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan-nya).”(QS. Shaad : 41-44)

Terceritakan pula bagaimana sibuknya para pejuang kemerdekaan suatu bangsa yang sabar mempersiapkan kemerdekaannya kelak. Mereka selalu sibuk dengan beragam cara dan strategi, meski harus terulang kekalahan dan membutuhkan banyak pengorbanan. Namun pada hakikatnya mereka sabar dalam kesibukannya melihat aliran darah yang tumpah ditangan para penjajah. Mereka sibuk berusaha mengubah penjajahan menjadi kemerdekaan, dengan terus melapangkan dada sabarnya dan meyakini bahwa Allah pasti membantunya.

Senin, 18 Juni 2012

AYO BELAJAR MELAWAN KEADAAN


Rasa takut kita untuk salah lebih sering menjadikan kita salah daripada betul. (Mario Teguh)

Sejatinya manusia hanyalah perencana yang sudah menjalin kerjasama dalam proyek besar dari Allahu Akbar. Setiap kita telah di danai dengan kecukupan yang tak bisa dihitung jari. Semenjak investasi ini manusia setujui saat Allah bertanya, “Bukankah Aku ini Tuhanmu?”. Saat itu setiap kita menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi”. Dan proyek itu adalah kehidupan ini, hari-hari yang kita jalani.



Dalam sebuah episode kehidupan ketika ditanya bagaimana dia bisa bertahan setelah ribuan kali gagal, seorang Thomas Alfa Edison menjawab, “Saya tidak gagal, tetapi menemukan 9994 cara yang salah dan hanya satu cara yang berhasil. Saya pasti akan sukses karena telah kehabisan percobaan yang gagal”. Begitulah sikap orang gigih yang percaya kebenaran itu dapat dicapai setelah sabar bangkit dari berkali-kali percobaan salah.

Kehidupan ini memang serupa serangkaian keberanian bersikap dalam setiap keadaan. Seperti penemu bola lampu itu yang memilih untuk terus menghampiri kemungkinan salah, dengan sikap pantang menyerah yang akhirnya malah menyejarah.

Jumat, 20 April 2012

Mari Bersyukur

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl: 18)

Maha Suci Allah yang menciptakan hamparan langit indah membentang, yang padanya burung-burung terbang bebas mengelilingi wujud Kemahabesaran-Nya. Yang padanya menggantung awan-awan yang berbaris menurut kisaran angin, yang ketika telah mencapai waktunya turunlah hujan dari celah-celahnya membasahi bumi yang kering kerontang. Kemudian air hujan itu menyuburkan bumi dengan buah dan sayur mayur.



“Allah yang mencipta langit-langit dan bumi, dan menurunkan air hujan dari langit lalu mengeluarkan dengan air itu buah-buahan sebagai rezeki bagimu. Dan Dia menundukkan bagimu perahu sehingga berjalan di atas lautan dengan perintah-Nya, dan Dia menundukkan sungai-sungai bagimu. Dan Dia menundukkan bagimu matahari dan bulan yang tidak henti-hentinya (beredar), dan Dia menundukkan bagimu malam dan siang. Dan Dia memberikan kepadamu semua yang kamu minta. Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu adalah makhluk yang banyak berbuat zhalim dan banyak mengkufuri (nikmat).” (QS. Ibrahim: 32-34)

Segala Puji bagi-Nya yang membuat kita masih mampu bernafas, masih bisa melihat, masih lapang ketika sempit, masih mampu bersabar, masih….dan masih…..

Senin, 09 April 2012

MARI MEMBIASAKAN DIRI TIDAK MENGELUH


“Apa yang terjadi pada anda tidak penting. Yang penting adalah apa yang anda lakukan terhadap apa yang terjadi pada anda.” (DR. Robert Schuler)

Hidup adalah proses panjang melelahkan yang penuh coba dan goda, seperti dunia yang bagaikan penjara bagi mereka yang bertakwa. Karena bagi pencari keridhoan Yang Esa, kalaupun dia hartawan atau hanya sabar dan syukurlah perhiasan yang dia punya. Tidaklah semua itu berharga, melainkan hanya cicipan ala kadarnya dari surga yang kenikmatannya abadi tiada tara.



Dalam The Way To Win karya Solikhin Abu Izzuddin dikisahkan, pada suatu hari sebagai qadhi-semacam hakim agung tingkat nasional- ia berkendara keledai yang bagus (Mitshubishi kuda kalau sekarang). Pakaiannya bagus, performanya meyakinkan. Saat melintas disebuah pasar tiba-tiba seorang yahudi pedagang minyak menghadang. Memegang tali keledai sang Imam seraya berkata, “Ya Syaikhul Islam, anda menyatakan bahwa Nabimu bersabda, ‘dunia itu penjara orang beriman dan surganya orang kafir’. Dengan penampilan anda yang seperti ini, anda dipenjara seperti apa? Dan dengan keadaan saya yang seperti ini, saya berada disurga seperti apa?”

Ibnu Hajar menjawab, “Dengan kondisi seperti ini, saya dibanding dengan nikmat yang Allah janjikan di akhirat, seolah dalam penjara. Engkau dengan kondisi seperti itu, dibandingkan dengan siksa yang Allah ancamkan di akherat nanti, sekarang berada di dalam surga.”

Luar biasa! Mendengar jawaban tersebut, yahudi spontan masuk Islam. Sehebat apapun orang mukmin di dunia, ia masih berada dalam “penjara keterbatasan”. Segembel apapun orang kafir, mereka masih di surga, sebab masih ada neraka menyala menanti mereka.

Inilah ketetapan Allah Azza wa Jalla, bahwa sebenarnya bagi orang-orang beriman telah tersedia surga yang kekal selamanya. Asalkan mau berusaha, bersabar lalu berdoa memasrahkan segala daya yang telah terupaya pada-Nya Yang Kuasa. Maka tidaklah pantas mengeluhkan kehendak-Nya yang terjadi pada kita, karena sebenarnya;

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (TQS. Al-Hadid:22)

Manusia memang diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir, tapi itu bagi mereka yang tak mau berfikir. Bahwa jika seseorang dihadapkan pada suatu masalah, sebenarnya dia sedang diberikan kesempatan untuk bisa ditempatkan-Nya pada posisi yang lebih baik dari sebelumnya.

Namun jika kita mengeluh, sama saja telah menyangsikan kekuasaan Allah. Karena secara tidak langsung hal itu menandakan buruknya persangkaan kita pada Allah, sementara Allah mengikuti persangkaan hamba-Nya. Padahal;

“Sesungguhnya jika Allah akan mencintai suatu kaum, maka Dia akan memberikan ujian kepada mereka. Barang siapa yang bersabar, maka kesabaran itu bermanfaat baginya. Dan barang siapa marah (tidak sabar) maka kemarahan itu akan kembali padanya.” (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi, Ibnu Muflih berkata, “Isnad hadits ini baik”)

Maka sebenarnya bila kita mampu mengurangi kebiasaan mengeluh atau tidak mengeluh sama sekali dan berusaha berbaik sangka pada-Nya, hal itu akan menjadi penyumbang bagi kebaikan kehendak-Nya pada kita.

Oleh karena itu, marilah kita membiasakan diri untuk tidak mengeluhkan masalah (Apa yang terjadi pada anda tidak penting). Tapi mari kita berfikir cerdas dan berusaha ikhlas mencari solusi secara tuntas (Yang penting adalah apa yang anda lakukan terhadap apa yang terjadi pada anda). Penulis pun terus belajar untuk hal ini.

Syukuri apa yang ada
hidup adalah anugerah
tetap jalani hidup ini
melakukan yang terbaik
Tuhan pasti kan menunjukkan
kebesaran dan kuasa-Nya
bagi hamba-Nya yang sabar
dan tak kenal putus asa
(D’Masiv – Jangan Menyerah)

“...Kemudian apabila kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul-Nya jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian...”    (TQS. An-Nisa:59)

Mari Belajar Memaknai Kesabaran



Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (TQS. al-Baqarah : 214)

Segala Puji Bagi Allah yang telah memberikan kita kelimpahan dan kecukupan rezeki, meski itu sering dikeluhkan olah manusia. Salawat teriring salam semoga selalu tercurah limpahkan kepada junjungan mulia, Nabi Muhammad SAW. Kepada keluarga, sahabat, serta seluruh pengikut beliau yang senantiasa menapaki jejaknya hingga yaumil akhir nanti. Amin.



Kehidupan adalah jalan lurus yang terhampar padanya duri-duri tajam lagi menyiksa. Pun yang terhias pernak-pernik kesenangan dan kemudahan yang melenakan. Juga segala olah rasa yang sering membuat raga tak kuasa menahan semua beban hidup yang ada, sehingga banyak manusia berusaha menghilangkan nyawanya. Serta butir-butir hikmah yang sejuknya terasa hingga jiwa, yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang selalu ingin mendekatkan dirinya dengan Sang Pemilik hikmah.

Adalah keindahan yang sempurna semua kejenuhan rutinitas yang ada, di mana manusia akan bisa belajar mewarnai monotonnya hari yang selalu dia lalui. Dengan begitu, kita secara tidak langsung diajarkan untuk ikut berlelah diri dalam mengisi umur yang telah diberi. Agar manisnya terkesan berarti, juga menyejarah hingga tua nanti. Dengan semua kepayahan yang kita usahakan, Allah tidak akan mendiamkan begitu saja. Allah pasti akan membalas dengan balasan yang terindah di setiap saatnya.

Karena kita makhluk sempurna, pasti akan selalu ada aral melintang yang menjadi penghalang. Di setiap nafas asa yang membara dalam dada, dikala bencana duka yang menyayat hati, pun masa ketika kita mencoba berusaha berbaik laku dan sangka pada alam sekitarnya. Itulah ujian keimanan yang kan mendewasakan batin dan pikiran kita. Dan sebaik-baik penangkalnya adalah kesabaran. Dari semua, suka duka, hinaan gunjingan, tekanan aturan juga kebutuhan hidup harian.

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan,
“Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji`ûn” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (TQS. al-Baqarah [2]: 155-157)

Salah satu kesabaran seorang anak menusia adalah ketegaran dari perlakuan dzalim yang dia terima. Ketika kehidupan bermasyarakat sudah mensyaratkan kasta-kasta, lalu ego manusiawi turut meramaikan pergolakan hati. Antara ambisi pribadi dan panggilan nurani yang ingin selalu memberi. Pun saat dunia kerja tak lagi mampu dipercaya. Kemudian tercipta kesenjangan antar golongan, pemimpin dengan bawahan, yang kaya dengan yang kurang berada.

Namun Allah Yang Esa, selalu mendampingi di tiap jerit pinta seorang hamba yang yakin sepenuh jiwa bahwa DIA pasti akan terus mengupayakan yang paling baik diantara yang terbaik yang manusia itu usahakan untuk dirinya.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka” (TQS. Ar-Ra’d : 11).

Keberhasilan hidup Anda sepenuhnya ada dalam tanggung-jawab Anda. 
Janganlah lagi menunggu dibuat berhasil, dan jangan ijinkan orang lain memperlambat keberhasilan Anda. 
Kehidupan ini adalah kehidupan Anda. Maka keberhasilannya adalah keputusan penuh Anda!

Katakanlah, say it!
I am the boss of my life!

(Mario Teguh)

Seberat dan sebesar apapun kesusahan yang kita terima, baik itu di keluarga, masyarakat, pun tempat bekerja ketika pemimpin tak kuasa beri ruang pada tangga keberhasilan kita. Pasti selalu ada hikmah di dalamnya. Dan kala tuntutan hidup semakin tumbuh seiring perekonomian yang carut marut. Sebuah pesan indah pertarungan megah yang kan menghantarkan kita pada tepian samudera ketegaran. Saat itulah mungkin makna kesabaran kan terasa lezatnya.   

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”. (TQS. az-Zumar :10)

Kesabaran yang tersandar pada kuatnya keyakinan pada Sang Maha Kuat, akan mampu melahirkan keberanian bersikap. Bukan berbuah pasrah yang rela tertindas dalam penguasaan orang lain. Namun terlebih pada penunjukan prinsip diri yang kokoh, yang tak mudah gentar hanya dengan gertakan duniawi semata.

“Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar”. (TQS. Ali-Imran :146)

Kesabaran bagaikan kayu bakar yang kan mampu membarakan semangat juang setiap insan. Namun kita masih memerlukan api penyulutnya, agar benar-benar bisa merasakan hangatnya kekuatan untuk melawan segala fitnah yang kan menghadang. Dan sebaik-baik api penyulut kesabaran adalah shalat. Karena mereka selalu disejajarkan sebagai senjata ampuh melawan kedzaliman.

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu', (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (TQS. al-Baqarah : 45-46)

“Dan perintahkanlah keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (TQS. Thaahaa : 132)

Kesabaran manusia hanya akan berbuah kekecewaan bila tidak diikat dengan shalat. Karena shalat bukan hanya sebuah ritual semata, bukan pula penggugur kewajiban belaka. Shalat adalah bukti ketundukan dan kepatuhan kita pada Allah SWT, Pemilik segala kemudahan. Dan jangan sampai kita menjadi makhluk durhaka yang mengabaikan Tuhannya setelah DIA Yang Esa Memberikan semua nikmat-nikmat-Nya pada kita.

“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).” (TQS. al-Maa’idah : 55)

Sejarah pun mencatat perintah sabar dan shalat, yaitu ketika Lukman menasehati anaknya yang terabadikan dalam Al-Qur’an;

“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (TQS. Lukman : 17)

Mutiara itu adalah kesabaran yang tersimpan di kedalaman lautan, dan penjaga agar kemilaunya tak pernah redup adalah shalat yang menutupinya bagaikan cangkang yang kokoh. Dan keduanya adalah permata yang amat berharga. Seperti itulah kiranya makna kesabaran  yang terwarnai dengan konsistensi shalat yang harus kita miliki, teramat dalam menghujam hati sehingga tercipta sebagai identitas pribadi.

Mari kita belajar lebih memaknai kesabaran, agar hari-hari esok yang kan menantang bukan lagi jadi hambatan yang terlalu berarti.

“Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; maka barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri; dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudharatannya kembali kepadanya. Dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemelihara(mu).” (TQS. al-An’aam : 104)


Sumber: http://www.dakwatuna.com

Syukron Ray, Terima Kasih Re

  Syukron Ray, 11 tahun yang indah sudah jadi bayangan kenangan yang tak bisa diulang. Saat ini waktu selama itu ternyata seolah hanya mim...