Tampilkan postingan dengan label umar bin khathab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label umar bin khathab. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 Agustus 2019

Yang Terpilih dan Yang Terbuang


“Bersegeralah melakukan amal shaleh sebelum datangnya fitnah seperti malam gelap gulita; pada pagi hari seseorang beriman dan sore harinya menjadi kafir, atau sore hari dia mu’min kemudian pada pagi harinya menjadi kafir. Dia menjual agamanya dengan sedikit dari dunia.” (HR. Ahmad)


“Sungguh indah dan mulia sekali kata-kata ini”, begitulah komentar Umar bin Khattab. Orang yang paling keras permusuhan nya terhadap Rasulullah saat itu, ternyata hati nya amat lembut saat tersentuh ayat indah Al-Quran.

Jadilah dia Al-Faruq, karena berani menampakkan keislaman nya di Mekkah kala itu. Beliau akhirnya terpilih diantara dua nama yang Rasulullah ajukan pada Allah untuk memuliakan Islam.

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. Ketahuilah olehmu bahwa sesungguhnya Allah menghidupkan bumi sesudah matinya. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan kepadamu tanda-tanda kebesaran (Kami) supaya kamu memikirkannya.” (QS. Al-Hadid: 16-17)

Rabu, 03 Oktober 2018

Mari Belajar Mensyukuri Yang Telah Ada


Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya, "Wahai kaumku! Ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, dan menjadikan kamu sebagai orang-orang merdeka, dan memberikan kepada kamu apa yang belum pernah diberikan kepada seorang pun di antara umat yang lain."  (QS. Al-Maidah: 20)

Begitulah bayan sang Nabi kepada umat nya, penuh cinta membelai nurani agar senantiasa selalu bersama kebaikan hingga surga nanti. Namun Allah hendak memberikan pelajaran bagi kehidupan selanjutnya, kaumnya kemudian tercatat  sebagai pembangkang yang menyelisihi gurunya sendiri. Bahkan saat sang Nabi mengajak mereka menuju tempat terbaik, mereka malah memilih tempat yang rendah dan kemalasan. 

"...Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)..." (QS. At-Tiin: 4-5)

Ingatkah saat bani Israel menentang dan melanggar sumpah serta janji nya pada Thalut, karena menganggap bahwa Thalut bukan dari keturunan terhormat yang berkompeten menurut mereka. Dengan indah Allah mengisahkan kepemimpinan Thalut dan pembangkangan bani Israel;

Sabtu, 31 Maret 2018

Mari Belajar Menikmati Proses

"Kedua tangan ini tercipta untuk bekerja. Jika tak disibukkan dengan kerja ketaatan, ia kan bergiat dalam kemaksiatan." (Umar Ibnu Al-Khathab)


Dipadang tandus nan gersang itu dia sadar susah mendapatkan air, namun karena keyakinan bahwa Allah tidak akan menganiaya hamba-Nya lah yang membuat dia rela berlari mondar-mandir, dari shafa ke marwah, walaupun akhirnya air itu muncul dari kaki mungil Ismail As.



Dalam keadaan miskin yang yatim itu dia tak ingin mengecewakan niat suci ibunya untuk pergi haji, berlatih lah dia mengantar jemput dombanya dari kandang diatas bukit ke padang gembala selama berhari-hari. Dan saat musim haji tiba, pemuda yaman itu menggendong ibunya memenuhi niat suci pergi haji.

Tiap hari sang teladan selalu pergi ke sudut pasar Madinah Al Munawarah menemui si buta. Dibawa nya serta makanan dan tanpa berkata-kata disuapi nya makanan itu agar si buta tak kelaparan. Semua dijalani dengan kesabaran mendengar si buta mencaci maki nya setiap hari. Namun saat dia wafat, si buta tersadarkan lalu menghamba pada Tuhan Yang Esa.

"Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan." (At-Taubah [9]: 105)

Syukron Ray, Terima Kasih Re

  Syukron Ray, 11 tahun yang indah sudah jadi bayangan kenangan yang tak bisa diulang. Saat ini waktu selama itu ternyata seolah hanya mim...