Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 Desember 2015

Kini Bermainlah Sepuasmu


Kini hanya tinggalah bayangan mu, terlalu cepat waktu indah itu pergi berlalu. Dihari-hari saat kita bersama, di saat kau bercanda ria membuatku tertawa, saat sejenak penat terlepas sudah dengan tingkah mu, kini tiada lagi. Tak banyak yang mengerti arti kebersamaan yang melahirkan cinta dan kepedihan atas kepergiannya, baik makhluk ataupun waktu.


Makhluk kecil yang lucu,
Dengan apa harus kulukiskan nadi hati yang sejenak terhenti, bayangan itu hadir berpendar ke sana-kemari. Hinggap pergi dilain tempat yang dulu kau sukai, yang dulu kau diami, yang dulu kau jelajahi, yang dulu kau ada disitu.





Sabtu, 12 Desember 2015

Dari Bagian Timur Pulau Jawa


Inilah sepenggal kisah yang tersisa diantara rindu akal memikirkan kesejukan hidup dalam selimut kebersamaan. Tiada yang istimewa memang dari perjalanan kali ini, selain ceceran hikmah yang sengaja Allah hantarkan pada kami untuk sejenak membersihkan kepenatan hati dari kilau dunia. Perjalanan yang melahirkan pelajaran, barangkali itu yang memang cocok menggambarkan suasana batin saat akhir perjalanan kemarin.

Berawal dari kesepakatan kami dengan pihak mereka disana, hingga pada awal November 2015 kami berangkat dengan kereta api ekonomi jurusan Malang. Belum pernah aku rasakan perjalanan sejauh ini sebelumnya, berangkat Kamis sore tapi sampai tujuan baru pada Jum’at siang nya. Luar biasa jauh…… tapi di sinilah awal mula kisah dari bagian Timur pulau Jawa terceritakan.



Kami tiba di stasiun Malang Kotalama kurang lebih pukul setengah Sembilan pagi, disana sudah menunggu dua orang utusan mereka yang akan menghantarkan kami ke lokasi tujuan. Sebelum mulai jalan, ternyata kami lupa membeli tiket pulang. Sedangkan loket tiket stasiun belum dibuka, sementara ketika kami mau beli di Alfamart pun ternyata tiket sudah habis untuk keberangkatan hari minggu. Sempat ada panjang diskusi disana, pasalnya salah satu dari kami harus mengajar privat pada hari senin siang nya. 

Setelah cukup lama, kami putuskan mencari alternatif tiket dari keberangkatan stasiun kota lain yang terdekat dengan lokasi. Lelah mencari, dalam perjalanan menuju lokasi selain tubuh yang letih karena jauhnya perjalanan, pikiran kami disibukkan dengan tiket pulang yang belum menemui titik terang. Tapi Pak Ali, supir yang mengantar kami menasehati agar tetap tenang dan selalu berbaik sangka. Dan dia pun sampai memastikan bahwa akan ada jalan terbaik sebagai solusi dari Allah. Pak Ali ini mantap mengajarkan kami tentang kepasrahan pada Allah selama perjalanan, selain dia menjelaskan nama perkumpulan mereka beserta visi misinya. Dalam hal menyupir pun, Pak Ali cukup berani salip menyalip. Ternyata belakangan kami dengar bahwa dia memang mantan preman.
                      
Setibanya di lokasi, sekitar jam setengah sebelasan kami melihat hal yang baru. Dimana biasanya saat ada acara-acara panitia wanita sibuk menyiapkan makanan. Tapi tidak di tempat ini, Pak Ali menjelaskan bahwa di sana mereka memuliakan para wanita baik peserta maupun panitia dengan membebastugaskan mereka dari masak memasak. Tapi sebagai gantinya, para lelaki lah yang memasak untuk memenuhi kebutuhan makanan disana. Hal ini mereka lakukan dengan alasan agar para wanitanya fokus pada pembinaan yang di adakan selama acara di sana berlangsung.

Selasa, 12 Mei 2015

Pelajaran Itu Amat Berharga

Kala itu di hari Jum’at, 8 Mei 2015. Allah telah berbaik hati memberikan kami kesempatan untuk bisa memasarkan produk bunga sabun di gedung Smesco. Sebuah tempat di mana terpusat produk-produk UKM dan kreasi anak negeri. Sebuah kenyataan yang selama ini hanya jadi mimpi itu begitu indah. Melalui tangan dingin seorang anak muda, akhirnya kami bisa membuka stand dagangan bunga sabun kami di sana. Tapi banyak pelajaran yang amat berharga dihari itu.

Pagi itu selepas subuh aku dan istri bersama-sama membuat packing untuk dagangan bunga sabun kami, sedianya sebelum jam delapan pagi kami sudah harus ada di Smesco. Tapi karena keterbatasan SDM, kami baru bisa berangkat sekitar jam tujuh. Aku menyewa tukang ojek untuk membawa bunga sabun kami. Sedangkan aku dan istri mengikutinya dari belakang. Tapi manusia memang hanya bisa berencana, Allah lah yang menentukan yang terbaik bagi hamba-Nya.

Belum jauh dari rumah, tiba-tiba motorku mogok. Mesinnya gak mau nyala. Aku yang gak begitu ngerti soal motor agak tegang juga dibuatnya. Pasalnya dagangan bunga sabunku sudah jauh di depan dibawa tukang ojek. Dalam kondisi genting itu, istriku berusaha mencari bantuan. Kami masuk ke sebuah perkampungan, mencoba mencari bengkel yang barangkali sudah buka. Tapi tetap juga tidak ada.

Selasa, 19 Agustus 2014

Kejutan Penuh Makna

Selepas lebaran adalah waktu dimana semuanya harus dimulai dari awal kebersihan hati, kemantapan langkah dan gelora semangat baru tuk sambut hari-hari melelahkan dengan rutinitas pekerjaan yang juga kembali terkadang membosankan. Seperti lembaran kertas putih yang sedianya siap diisi berbagai cerita semangat baru, terlebih di tempat kerja yang memang menghabiskan lebih banyak waktu dalam sehari ketimbang di rumah.



Tapi hari itu, Senin Empat Agustus Dua Ribu Empat Belas adalah hari yang mungkin paling unik. Di hari pertama masuk kerja kembali setelah liburan lebaran, ternyata juga adalah hari terakhir ku bercengkerama dengan pekerjaan dan seluruh lingkungannya. Baru saja aku sampai lobi kantor, setelah bersilaturahim dengan teman-teman yang ku jumpai. Ada yang berpesan aku di panggil menghadap manager operasional kantor jam sepuluh siang hari itu.

Tanpa ingin berpikir negatif, selepas shalat dhuha ku jumpai mereka yang katanya memanggilku. Diruangan itu ternyata aku telah ditunggu sekitar lima orang, mereka bisa dibilang para pejabat kantor operasional tempat dimana aku bekerja.

Setelah berjabat tangan dan saling maaf memaafkan sebagai tanda silaturahim lebaran, aku dipersilahkan duduk di depan mereka. Kejadian itu persis seperti para hakim yang sedang mempersilahkan duduk seorang tersangka. Saat itu aku mulai bertanya-tanya dalam hati, ada apa gerangan ini.

Dengan hati-hati secara bergantian mereka menjelaskan maksud di panggilnya aku menghadap, mereka pun menanyai ku ini dan itu, menunjukkan ku ini dan itu, meminta saran ku tentang ini dan itu. Hingga setelah sekitar satu jam aku di introgasi mereka, bisa ku simpulkan aku akan segera kehilangan pekerjaan. Mereka memecat ku karena ke khilafan yang termanfaatkan dengan baik oleh nya, dan hanya karena update-an status-status ku di jejaring sosial yang mereka anggap memprovokasi rekan-rekan kantor. Sejauh mana aku membela diri, semakin jauh pula mereka mencari-cari alasan sehingga aku seperti layaknya benar-benar tersangka.

Jumat, 28 Februari 2014

Ngeri Jadi Syi’i


Ini kisahku sekitar tujuh tahun yang lalu,
Di waktu sedang semangat-semangatnya mencari keilmuan Islam, beberapa pergerakan keislaman yang pernah saya ikuti memiliki sebutan khusus untuk para pengikutnya. Seperti syabab sebutan untuk pengikut Hizbut Tahrir. Saya pun pernah menjadi syi’i, sebutan untuk pengikut ajaran syiah.

Berangkat dari rasa keingintahuan dan amanah ibunda, saya ikut dalam beberapa pengajian rutin syiah bersama ayah yang sudah lebih dulu menjadi syi’i. Padahal saat itu saya pun tengah mencoba aktif menjadi seorang syabab bersama beberapa teman Hizbut Tahrir, banyak dari mereka yang melarang dan mewanti-wanti agar saya berhati-hati. Tapi itu malah membuat saya makin penasaran akan ajaran syiah itu sendiri.

Kurang lebih dua tahun saya mengikuti pengajian dan acara-acara syiah, mulai dari perayaan asyuro di Bandung dan Jakarta, hingga ritual malam nisfu syaban di ICC Warung Buncit pun pernah saya ikuti. Sampai-sampai saya pun pernah diberi beasiswa S1 dari mereka, pada Islamic College for Advanced Studies Paramadina Jakarta. Dan saya lolos seleksi hingga sempat kuliah di fakultas filsafat pada institusi itu meski hanya satu tahun.

Sebelumnya saya kurang banyak mengatahui kenapa syiah dianggap sebagai aliran sesat. Awalnya yang saya mengerti adalah bahwa mereka sekumpulan orang yang mengajarkan kearifan dan kebijaksanaan ilmu dari gudang ilmu yang di miliki Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Sapintas jika berdiskusi dengan syi’i yang sudah lama, mereka seolah memiliki gaya bahasa yang cerdas dan penjabaran yang logis. Namun dibalik itu, ternyata tidak semua kerang dalam lautan samudera berisi mutiara. Yang ini isinya malah kotoran berkerak yang di amini selama beberapa abad hingga tumbuh subur menjamur.

Saat saya mengikuti perayaan asyuro pertama kali di Bandung kalo gak salah sekitar tahun 2006 lalu, sempat kaget juga karena melihat banyaknya syi’i yang berkumpul. Saya kira tadinya ajaran ini hanya terbatas kalangan tertentu dan hanya diikuti sedikit orang, tapi ternyata tidak. Paling tidak, kurang lebih sekitar 150 orang memadati acara tersebut. Dengan pakaian serba hitam, ada pula yang ditambah corak warna merah darah bertulis arab Labbaika ya Husain.

Rabu, 28 Agustus 2013

FITNAH DAN DARAH

Rabiah adawiyah, saat Ramadhan 1434 Hijriyyah

tercatat sudah dalam sejarah
demokrasi di khianati hak asasi
saat Mesir terpimpin DR. Moursiy
saat para pengkhianat lakukan kudeta
saat dunia dibuat buta berita

taukah di Rabiah adawiyyah sana,
saat presiden yang sah terpilih dikudeta
di culik dan di sandera junta-junta durjana
rakyat Mesir berdemo damai hingga takbir menggema
memenuhi rongga-rongga nafas kota

disana,
tak ada yang hendak mereka pinta
selain pengembalian presiden pada posisi yang semestinya
tak ada yang mereka bawa
selain Al-Quran penenteram jiwa
bukan senjata

Selasa, 26 Maret 2013

Saya Bangga Membenci PKS


Bagi saya politik itu kotor, kejam, menghalalkan segala cara dan jauh dari kebaikan. Anggapan itu saya dapat ketika masih sekolah. Dalam pandangan saya mereka yang terlibat dikancah perpolitikan, sudah pasti akan melakukan berbagai cara agar berhasil meraih suara demi pemimpin-pemimpin mereka.

Apalagi jika hal itu dibalut dengan embel-embel agama, rasanya tidak pantas kemurnian ajaran agama harus disandingkan dengan perpolitikan yang penuh intrik. 
Seperti beberapa partai politik yang mengatasnamakan agama, mengatasnamakan dakwah.

Yang paling terlihat penyandangan lebel agama, ternyata ada pada PKS. Yang menamakan partai islam, partai dakwah. Yang juga katanya di dalamnya ada pembinaan yang lain dari pada partai lainnya. Hal ini membuat saya makin membenci perpolitikan dalam negeri. 

Sampai sejak saya berhak memilih dalam suatu pemilihan, saya tidak pernah datang mencoblos. Karena bagi saya semua partai sama saja, sama-sama buaya pemerintahan yang kan mencaplok mangsanya ketika sudah dipercaya.

Minggu, 17 Maret 2013

Dari Kalam Murobi


Teringat kalam murrobi beberapa pekan ke belakang, dia menceritakan hikmah kebijaksanaan. Tentang seorang janda tukang tenun yang mempunyai banyak anak pada zaman Nabi Daud. Sepeninggalan suami tercinta, dia berusaha membuat kain selama beberapa hari untuk kemudian di jual di pasar. Besar harapannya agar kain itu nantinya segera terjual, agar dia dan anak-anaknya bisa makan. Sambil menyelesaikan pekerjaannya, dalam hati kecilnya dia mengeluh pada Allah perihal pahitnya hidup yang dijalani. Sampai pada saat kain itu jadi, dan harus segera di jual.

Ketika janda itu bersama anak-anaknya pergi ke pasar hendak menjual kain tersebut, di tengah jalan datanglah seekor burung yang dengan tiba-tiba mengambil kain itu lalu membawanya pergi. Serta merta mereka terkejut dan berusaha mengambilnya kembali. Tapi burung itu sudah jauh meninggalkan mereka.

Janda itu membuncah rasa dan mengeluh bahkan sampai menyalahi Allah dengan berkata;

“Allah tidak adil…… Allah tidak adil…… “

Kemudian janda tadi akhirnya pergi menemui Nabi Daud dan mengadukan semua kejadian itu dengan mulut yang masih mengutuk burung yang membawa kainnya pergi. Juga menyalahi Allah yang menurutnya tidak adil.

Senin, 11 Februari 2013

Teruslah Berbaik Sangka


Teringat kalam murrobi beberapa pekan ke belakang, dia menceritakan hikmah kebijaksanaan. Tentang seorang janda tukang tenun yang mempunyai banyak anak pada zaman Nabi Daud. Sepeninggalan suami tercinta, dia berusaha membuat kain selama beberapa hari untuk kemudian di jual di pasar. Besar harapannya agar kain itu nantinya segera terjual, agar dia dan anak-anaknya bisa makan. Sambil menyelesaikan pekerjaannya, dalam hati kecilnya dia mengeluh pada Allah perihal pahitnya hidup yang dijalani. Sampai pada saat kain itu jadi, dan harus segera di jual.

Ketika janda itu bersama anak-anaknya pergi ke pasar hendak menjual kain tersebut, di tengah jalan datanglah seekor burung yang dengan tiba-tiba mengambil kain itu lalu membawanya pergi. Serta merta mereka terkejut dan berusaha mengambilnya kembali. Tapi burung itu sudah jauh meninggalkan mereka.

Janda itu membuncah rasa dan mengeluh bahkan sampai menyalahi Allah dengan berkata;

Selasa, 05 Juni 2012

CATATAN PERJUANGAN (05 Juni 2012; 8:18 WIB)

Ternyata yang kurasa, keyakinan tak selalu berjalan mulus dengan realita keseharian perilaku. Selalu ada bisikan-bisikan entah yang mengajarkan lain. Selalu berubah ketika suatu harapan yang sudah mulai terjalani tiba-tiba terganggu dengan adanya hambatan-hambatan. Selalu mencoba yang tak boleh dicoba, selalu berani berlaku yang tak seharusnya dilakukan. Ah….itulah dulu, berawal dari jiwa yang ingin tahu dan mencoba hal-hal yang baru. Tapi kini moga masa itu takkan kembali lagi.
Dan hari ini, berawal dari kekecewaan yang melahirkan rasa penasaran aku jalani jalan ini. Jalan yang sebenarnya sudah aku jalani dulu ketika aku masih sekolah. Ialah jalan dakwah, jalan tarbiyah.
Diantara beragam kepala yang terkumpul saat pertemuan demi pertemuan, ada kesan yang jua selalu berubah. Ada harapan yang juga selalu lain dari tiap pekannya. Ada agenda yang semestinya berjalan mendekati sempurna, namun pula lain pada akhirnya. Ada pelajaran sosial dan psikologi dari setiap kebersamaan yang terjalani. Berbeda itu indah, namun akan lebih indah lagi bila perbedaan itu mampu melahirkan persamaan langkah. Tapi itu pasti tidak mudah, butuh waktu dan proses untuk sampai kesana.
Namun terlepas dari semua perasaan dan harapan dengan bergabungnya aku pada jalan ini, tetap akan ku coba mengikhlaskan hati agar langkah tak lemah. Terlepas pula dengan segala realita kebutuhan sehari-hari yang jua harus terpenuhi, aku yakin bila Allah telah menetapkan suatu jalan pada hamba-Nya dan hamba itu rela menjalaninya sepenuh hati. Takkan pernah mungkin Allah meninggalkan hamba itu sedetik pun bersama kesulitan-kesulitannya.
Wallahu a’lam.

Rabu, 13 April 2011

TUHANKAH PENCIPTA KEJAHATAN?

Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal yang gemar mendoktrinkan
faham atheismenya suatu ketika bertanya pada mahasiswa-mahasiswanya

"Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?".

Banyak mahasiswa dengan serempak menjawab, "Betul,pak !!! Dia yang
menciptakan semuanya". "Hm….Tuhan menciptakan semuanya?" Tanya
professor sekali lagi.

"Ya, Pak, semuanya !!! "
" Well..well….Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan
Kejahatan. Karena kejahatan itu ada di mana mana , dan menurut prinsip kita
bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa diri kita sebenarnya, jadi kita bisa saja
berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan karena itu adalah sesuatu yang ia
ciptakan." Para Mahasiswa terdiam dan tidak bisa menjawab doktrin professor
tersebut. Profesor itu berpuas hati , rasanya ucapan tadi telah membuktikan
kalau Tuhan itu adalah hanya sekedar sebuah dongeng , bualan dan mitos.

Namun seketika itu juga seorang m ahasiswa mengangkat tangan dan berkata,

"Profesor, boleh saya bertanya sesua tu?"

"Tentu saja," jawab si Profesor

Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, "Profesor, apakah dingin itu ada?"

Syukron Ray, Terima Kasih Re

  Syukron Ray, 11 tahun yang indah sudah jadi bayangan kenangan yang tak bisa diulang. Saat ini waktu selama itu ternyata seolah hanya mim...