Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Agustus 2025

Syukron Ray, Terima Kasih Re

 Syukron Ray,

11 tahun yang indah sudah jadi bayangan kenangan yang tak bisa diulang. Saat ini waktu selama itu ternyata seolah hanya mimpi kemaren sore dalam ingatan yang terbatas.

Di masa bertumbuh aku mengenal mu dulu, hitam putih bukan warna yang pantas dipersoalkan karena semua tetap indah penuh hikmah.

Meskipun akhirnya kita memilih jalan berbeda, syukron ya Ray sudah menyisakan kenangan untuk aku semangat mengejar akhirat. Pasti semua kebaikan yang pernah ada diantara kita suatu saat Allah balas pada diri masing-masing kita dengan balasan yang sempurna.

 


Terima kasih Re,

Untuk 3 tahun penuh warna yang membahagiakan. Walaupun pada akhirnya kamu tidak memilih ku, tapi dunia kita saat bersama adalah hal baru buat ku kemaren.

Sampai saat ini kamu masih jadi satu-satunya wanita yang pernah membuat aku jadi lelaki sempurna. Meskipun banyak cerita mengecewakan pada akhirnya, tapi rasa kecewa tak bisa menghapus jejak pelajaran berharga.

Dari kamu pandangan ku bertambah segar tentang dunia, membuat ku semangat mengejar nya. terima kasih atas semua kesempatan yang membuat aku merasa seperti seorang raja. Pasti Tuhan mendatangkan lebih banyak kesempatan lain yang jauh lebih indah dan lebih sempurna untuk kita walau tak bisa bersatu.

Saat ini aku rindu kalian, ingat kebersamaan di masa saat-saat bersama kalian. Moga kalian selalu sehat, dimudahkan segala urusan nya dan selalu dibahagiakan hati nya dengan cinta dari siapa pun.



Syukron Ray, Terima Kasih Re

Senin, 16 Juni 2025

Diam Adalah Khianat



DIAM ADALAH KHIANAT, begitulah pesan yang tersurat dan tersirat dalam film Hayya 3 Gaza ini.

Film ini mengulas sejarah tokoh-tokoh penyokong kemerdekaan Indonesia, kisah asmara, komedi dan sentilan untuk para konten kreator.

Diam adalah khianat, ketika mata menyaksikan hati tergetar merasakan tapi tiada daya untuk sekedar bersuara.

Bersuara tidak harus lewat orasi, ceramah, bahkan bisa lewat tulisan sebagaimana yang dipesan kan bunda Asma Nadia dalam film ini. Bahwa menulis adalah berjuang.

Film ini pun sebenarnya adalah konten yang di create sebagai sarana perjuangan. Apalagi 40% pendapatan dari pemutaran film ini akan disumbangkan ke Palestina. Sudah seharusnya para konten kreator ikut andil mungkin dengan ikut menonton, mengulas dan membagikan nya ke khalayak luas.

Diam adalah khianat, meski kita tidak sedang benar-benar secara langsung membantu Palestina,, setidaknya dukungan terhadap karya-karya yang mengingatkan kita pada Palestina adalah bentuk keberpihakan.

Lucu nya diakhir film ada sentilan seolah berpesan tidak semestinya mengkonsumsi/menggunakan 2 produk yang terafiliasi zionis penjajah. Sentilan yang halus saat menyuguhkan 2 jenis makanan di hari peringatan palestina, seolah komedi tapi punya pesan kuat untuk di cermati.

Barokallahu fiikum untuk semua yang berpartisipasi.

Btw, dulu saat film Hayya pertama launching saya masih nonton berdua, kini seri ke 3 nya harus nonton sendiri. Tak apa lah ya.... Yang penting masih turut serta dalam perjuangan menyuarakan palestina hehe....

#freepalestine #Palestina #Gaza #Savepalestine #savegaza #standwithpalestine #kamibersamapalestina

Sabtu, 31 Maret 2018

Mari Belajar Menikmati Proses

"Kedua tangan ini tercipta untuk bekerja. Jika tak disibukkan dengan kerja ketaatan, ia kan bergiat dalam kemaksiatan." (Umar Ibnu Al-Khathab)


Dipadang tandus nan gersang itu dia sadar susah mendapatkan air, namun karena keyakinan bahwa Allah tidak akan menganiaya hamba-Nya lah yang membuat dia rela berlari mondar-mandir, dari shafa ke marwah, walaupun akhirnya air itu muncul dari kaki mungil Ismail As.



Dalam keadaan miskin yang yatim itu dia tak ingin mengecewakan niat suci ibunya untuk pergi haji, berlatih lah dia mengantar jemput dombanya dari kandang diatas bukit ke padang gembala selama berhari-hari. Dan saat musim haji tiba, pemuda yaman itu menggendong ibunya memenuhi niat suci pergi haji.

Tiap hari sang teladan selalu pergi ke sudut pasar Madinah Al Munawarah menemui si buta. Dibawa nya serta makanan dan tanpa berkata-kata disuapi nya makanan itu agar si buta tak kelaparan. Semua dijalani dengan kesabaran mendengar si buta mencaci maki nya setiap hari. Namun saat dia wafat, si buta tersadarkan lalu menghamba pada Tuhan Yang Esa.

"Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan." (At-Taubah [9]: 105)

Kamis, 16 Juni 2016

Jangan Jadi Ular, Jadilah Kupu-kupu


Jangan Jadi Ular, Jadilah Kupu-kupu


Karena kesabaran adalah pergerakan, karena kesabaran adalah perbuatan. Maka jangan jadi ular, jadilah kupu-kupu di ramadhan kali ini.


Tak terasa kini sudah sepuluh hari pertama ramadhan 1437 H berlalu. Ramadhan adalah bulan terbaik umat islam yang di dalam nya terdapat banyak sekali keberkahan dan keberlimpahan pahala dan rezeki. Sejarahpun mencatat ramadhan sebagai bulan pendulang kemenangan bagi umat islam. Bulan di mana para penggiat ibadah bersemangat menuju ampunan, bulan dimana umat ini menjadi generasi tangguh yang terlatih sabar juga dekat pada kitab penuntun arah kehidupan. Al-Qur’anul Karim.

Berpuasa sejatinya juga adalah amanah agama-agama terdahulu yang tersempurnakan dengan kedatangan islam dan ajarannya. Banyak literatur selain islam yang memang menganjurkan untuk berpuasa, karena hasilnya bukan hanya akan tangguh secara spiritual dari sisi kesehatan pun akan mengalami perbaikan yang positif dengan berpuasa.

Berpuasa sesungguhnya adalah menahan diri tapi tetap bergerak dalam kesabaran. Menahan diri dari segala yang tadinya halal menjadi haram karena aturan syariat agama telah menetapkan seperti itu. Apalagi dari yang haram, sama sekali harus ditinggalkan. Bergerak dalam kesabaran sujud-sujud panjang di tiap malam saat tarawih, tahajud, maupun witir. Bergerak dalam langkah kesabaran menuju masjid di gelap nya hari subuh pagi. Bergerak dengan sabar tapi pasti untuk melindungi agama ini dari rongrongan para pendengki.

Maka jangan jadi ular yang sabar dalam gerakannya menanti kulit berganti tapi hakikatnya dia tetaplah ular, hewan panjang melata yang beracun mematikan. Tapi berusahalah bergerak cantik dalam sangkar ramadhan seperti ulat dalam cangkang kepompong. Dengan gerakan dzikir dan tilawah, dengan doa dan langkah nyata wujudkan syariah. Agar setelah masanya tiba, kemenangan penantian bagi seorang hamba adalah gelar takwa, gelar yang lebih mulia dari para sarjana dan professor manapun yang hanya bisa menghina aturan agama. Sebagaimana ulat yang tadinya adalah makhluk menjijikan berubah menjadi seekor kupu-kupu cantik yang dapat terbang bebas di angkasa.

Selasa, 29 Desember 2015

Kini Bermainlah Sepuasmu


Kini hanya tinggalah bayangan mu, terlalu cepat waktu indah itu pergi berlalu. Dihari-hari saat kita bersama, di saat kau bercanda ria membuatku tertawa, saat sejenak penat terlepas sudah dengan tingkah mu, kini tiada lagi. Tak banyak yang mengerti arti kebersamaan yang melahirkan cinta dan kepedihan atas kepergiannya, baik makhluk ataupun waktu.


Makhluk kecil yang lucu,
Dengan apa harus kulukiskan nadi hati yang sejenak terhenti, bayangan itu hadir berpendar ke sana-kemari. Hinggap pergi dilain tempat yang dulu kau sukai, yang dulu kau diami, yang dulu kau jelajahi, yang dulu kau ada disitu.





Sabtu, 12 Desember 2015

Dari Bagian Timur Pulau Jawa


Inilah sepenggal kisah yang tersisa diantara rindu akal memikirkan kesejukan hidup dalam selimut kebersamaan. Tiada yang istimewa memang dari perjalanan kali ini, selain ceceran hikmah yang sengaja Allah hantarkan pada kami untuk sejenak membersihkan kepenatan hati dari kilau dunia. Perjalanan yang melahirkan pelajaran, barangkali itu yang memang cocok menggambarkan suasana batin saat akhir perjalanan kemarin.

Berawal dari kesepakatan kami dengan pihak mereka disana, hingga pada awal November 2015 kami berangkat dengan kereta api ekonomi jurusan Malang. Belum pernah aku rasakan perjalanan sejauh ini sebelumnya, berangkat Kamis sore tapi sampai tujuan baru pada Jum’at siang nya. Luar biasa jauh…… tapi di sinilah awal mula kisah dari bagian Timur pulau Jawa terceritakan.



Kami tiba di stasiun Malang Kotalama kurang lebih pukul setengah Sembilan pagi, disana sudah menunggu dua orang utusan mereka yang akan menghantarkan kami ke lokasi tujuan. Sebelum mulai jalan, ternyata kami lupa membeli tiket pulang. Sedangkan loket tiket stasiun belum dibuka, sementara ketika kami mau beli di Alfamart pun ternyata tiket sudah habis untuk keberangkatan hari minggu. Sempat ada panjang diskusi disana, pasalnya salah satu dari kami harus mengajar privat pada hari senin siang nya. 

Setelah cukup lama, kami putuskan mencari alternatif tiket dari keberangkatan stasiun kota lain yang terdekat dengan lokasi. Lelah mencari, dalam perjalanan menuju lokasi selain tubuh yang letih karena jauhnya perjalanan, pikiran kami disibukkan dengan tiket pulang yang belum menemui titik terang. Tapi Pak Ali, supir yang mengantar kami menasehati agar tetap tenang dan selalu berbaik sangka. Dan dia pun sampai memastikan bahwa akan ada jalan terbaik sebagai solusi dari Allah. Pak Ali ini mantap mengajarkan kami tentang kepasrahan pada Allah selama perjalanan, selain dia menjelaskan nama perkumpulan mereka beserta visi misinya. Dalam hal menyupir pun, Pak Ali cukup berani salip menyalip. Ternyata belakangan kami dengar bahwa dia memang mantan preman.
                      
Setibanya di lokasi, sekitar jam setengah sebelasan kami melihat hal yang baru. Dimana biasanya saat ada acara-acara panitia wanita sibuk menyiapkan makanan. Tapi tidak di tempat ini, Pak Ali menjelaskan bahwa di sana mereka memuliakan para wanita baik peserta maupun panitia dengan membebastugaskan mereka dari masak memasak. Tapi sebagai gantinya, para lelaki lah yang memasak untuk memenuhi kebutuhan makanan disana. Hal ini mereka lakukan dengan alasan agar para wanitanya fokus pada pembinaan yang di adakan selama acara di sana berlangsung.

Selasa, 12 Mei 2015

Pelajaran Itu Amat Berharga

Kala itu di hari Jum’at, 8 Mei 2015. Allah telah berbaik hati memberikan kami kesempatan untuk bisa memasarkan produk bunga sabun di gedung Smesco. Sebuah tempat di mana terpusat produk-produk UKM dan kreasi anak negeri. Sebuah kenyataan yang selama ini hanya jadi mimpi itu begitu indah. Melalui tangan dingin seorang anak muda, akhirnya kami bisa membuka stand dagangan bunga sabun kami di sana. Tapi banyak pelajaran yang amat berharga dihari itu.

Pagi itu selepas subuh aku dan istri bersama-sama membuat packing untuk dagangan bunga sabun kami, sedianya sebelum jam delapan pagi kami sudah harus ada di Smesco. Tapi karena keterbatasan SDM, kami baru bisa berangkat sekitar jam tujuh. Aku menyewa tukang ojek untuk membawa bunga sabun kami. Sedangkan aku dan istri mengikutinya dari belakang. Tapi manusia memang hanya bisa berencana, Allah lah yang menentukan yang terbaik bagi hamba-Nya.

Belum jauh dari rumah, tiba-tiba motorku mogok. Mesinnya gak mau nyala. Aku yang gak begitu ngerti soal motor agak tegang juga dibuatnya. Pasalnya dagangan bunga sabunku sudah jauh di depan dibawa tukang ojek. Dalam kondisi genting itu, istriku berusaha mencari bantuan. Kami masuk ke sebuah perkampungan, mencoba mencari bengkel yang barangkali sudah buka. Tapi tetap juga tidak ada.

Senin, 22 Desember 2014

Renungan Hari Ibu

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Bahaz Ibnu Hakim, dari ayahnya, dari kakeknya Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku bertanya: Wahai Rasulullah, kepada siapa aku berbuat kebaikan?. Beliau bersabda: “Ibumu.” Aku bertanya lagi: Kemudian siapa?. Beliau bersabda: “Ibumu.” Aku bertanya lagi: Kemudian siapa?. Beliau bersabda: “Ibumu.” Aku bertanya lagi: Kemudian siapa?. Beliau bersabda: “Ayahmu, lalu yang lebih dekat, kemudian yang lebih dekat.” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi)

Puisiku untuk Mama

Mama,
Tiadalah mampu kami membalas
Segala cinta kasihmu
Sejak kami dalam rahimmu, engkau ikhlas berbagi ...

Nyawa kau pertaruhkan, saat kami akan menyentuh dunia
Rasa kantuk kau tepiskan, saat tengah malam kami menangis mengharap air susumu

Tetes keringat kau biarkan mengalir, demi kau lindungi kami dari teriknya matahari

Kau rawat kami, kau didik kami, kau selamatkan kami

Hingga kami dewasa pun, tak pernah kau meminta kami harus menghitung dan membalas semua jasamu... 

Mama,,
Rasul pun memuliakanmu
Karena engkau  memang Mulia
Karena syurga berada di telapak kakimu

Mama, terima kasih atas segalanya
Maafkan kami yang tak mampu semua cinta kasih, segala kebaikan, dan pengorbananmu untuk kami...

"Robbanaghfir lii wa lii waalidayya wa lilmu’miniina yawma yaquumul hisaab"
“Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat).”
[QS. Ibrahim:41]

"Robbighfir lii wa li waalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo"
“Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku dan kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.”

آمِييْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْن

Selamat mengambil keberkahan dr berbakti pd ibu bapak kita...
Barokallahu fiikum...

22-12-14
Dari BBM Misbah

Minggu, 16 November 2014

Keyakinan Itu Menjadi Kenyataan

Puisi di bawah ini saya tulis 2 tahun yang lalu, saat itu sedang ada masalah dipekerjaan. Banyak ketidaksesuaian yang terjadi, ketidakstabilan manajemen hampir di setiap divisi membuat jengah rutinitas kerja. Di kala itulah saya tuliskan puisi ini; 

Antara rela dan tidak,
Ku menanti dibibir waktu yang terbelenggu
Detik yang membisu dikesabaranku
Itu bukan tanpa pilu

Dayaku yang tertata bangga
Bukan buih selemah lembaran debu senja
Bukan tanpa rasa yang berharap seiya

Antara rela dan tidak
Peduli ini terletak dikeseimbangan bijaksana
Beda kata pada aturan yang menyiksa
Dan tekanan itu ternyata meng-ambigu reda

Antara rela dan tidak
Bila aku akhirnya luruh dibeda senja
Menapak berputar dilain roda
Masa itu mungkin kan segera

Jumat, 10 Oktober 2014

Kebersamaan dan Pesan Cinta Ibrahim



Peringatan hari raya Idul Adha tahun ini tak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, hanya saja di beberapa tempat lain terdengar kabar semakin banyak kaum muslimin yang ikut serta berkurban. Bahkan di suatu daerah ada juga umat agama lain yang turut menyumbangkan hewan kurban atas nama persaudaraan dan kebersamaan. Alhamdulillah....

Sedangkan aku dan para sahabat ku yang lain, alhamdulillah masih berkesempatan menyelenggarakan pemotongan hewan kurban meski hanya seekor sapi. Walaupun harga-harga semakin melonjak naik, namun keluhuran niat suci untuk beribadah di jalan Allah mampu mengalahkan nya. Karena pada setiap kebaikan dalam ibadah pasti ada jalan kemudahan, begitulah Islam mengajarkan kami.

 
Pagi itu selepas shalat Idul Adha kami berkumpul, bersilaturahim dan mulai melakukan pemotongan. Bersama bahu-membahu kami belajar tata cara penyembelihan, mulai dari pemotongan yang menurut ku perlu kehati-hatian karena harus menjatuhkan sapi dan mengikatnya serta menenangkannya agar tidak terlalu ngamuk saat di sembelih.



Begitu juga saat menguliti dan memotong serta memisahkan daging dari tulang dan bagian yang lain. Dalam hangat canda tawa, kebersamaan pun mengalir alami. Meski lelah yang sudah pasti, namun dengan semangat berbagi kami jalani sepenuh niat lillahi taala, -Insya Allah-.

Selasa, 09 September 2014

Bukan Saudara, Tapi Keluarga



Baru sekarang saya sempat menuliskan pengalaman itu, saat-saat beberapa minggu yang lalu kami berkumpul berlibur bersama. Indah ukhuwah itu terasa baik sebelum, sepanjang perjalanan, maupun sesudah acara itu terselenggara.


Kami bukan lah saudara kandung, tapi kami adalah keluarga. Lebih tepatnya keluarga seiman, keluarga satu nabi dan agama Islam. Keluarga yang anggotanya saling melengkapi satu dengan yang lain, saling menjaga dan membahagiakan satu dengan yang lain. Insya Allah setidaknya itulah yang terasa saat-saat di sana. Tak lama memang, hanya dua hari satu malam. Hanya sekedar berkumpul, bermain, berbagi cerita dan saling nasehat menasehati bersama. 



Di sana,
Atmosfir bumi puncak mampu sejenak merontokkan dari kepenatan agenda-agenda yang insya Allah dalam rangka kebaikan yang selama ini kami lakukan. Agenda menata diri pribadi dan sosial, menata niat dan keyakinan, agenda meluruskan amanah Allah, sebagaimana khalifatul fil ardh yang Dia Titahkan pada manusia.


Harum semilir oksigen di dataran tinggi di sana, telah mengisahkan jejak-jejak kenangan persaudaraan. Jejak-jejak kedekatan emosi spirit ukhuwah yang merupakan salah satu hadiah indah dari Allah. Sebagaimana dalam firman-Nya;

Selasa, 19 Agustus 2014

Kejutan Penuh Makna

Selepas lebaran adalah waktu dimana semuanya harus dimulai dari awal kebersihan hati, kemantapan langkah dan gelora semangat baru tuk sambut hari-hari melelahkan dengan rutinitas pekerjaan yang juga kembali terkadang membosankan. Seperti lembaran kertas putih yang sedianya siap diisi berbagai cerita semangat baru, terlebih di tempat kerja yang memang menghabiskan lebih banyak waktu dalam sehari ketimbang di rumah.



Tapi hari itu, Senin Empat Agustus Dua Ribu Empat Belas adalah hari yang mungkin paling unik. Di hari pertama masuk kerja kembali setelah liburan lebaran, ternyata juga adalah hari terakhir ku bercengkerama dengan pekerjaan dan seluruh lingkungannya. Baru saja aku sampai lobi kantor, setelah bersilaturahim dengan teman-teman yang ku jumpai. Ada yang berpesan aku di panggil menghadap manager operasional kantor jam sepuluh siang hari itu.

Tanpa ingin berpikir negatif, selepas shalat dhuha ku jumpai mereka yang katanya memanggilku. Diruangan itu ternyata aku telah ditunggu sekitar lima orang, mereka bisa dibilang para pejabat kantor operasional tempat dimana aku bekerja.

Setelah berjabat tangan dan saling maaf memaafkan sebagai tanda silaturahim lebaran, aku dipersilahkan duduk di depan mereka. Kejadian itu persis seperti para hakim yang sedang mempersilahkan duduk seorang tersangka. Saat itu aku mulai bertanya-tanya dalam hati, ada apa gerangan ini.

Dengan hati-hati secara bergantian mereka menjelaskan maksud di panggilnya aku menghadap, mereka pun menanyai ku ini dan itu, menunjukkan ku ini dan itu, meminta saran ku tentang ini dan itu. Hingga setelah sekitar satu jam aku di introgasi mereka, bisa ku simpulkan aku akan segera kehilangan pekerjaan. Mereka memecat ku karena ke khilafan yang termanfaatkan dengan baik oleh nya, dan hanya karena update-an status-status ku di jejaring sosial yang mereka anggap memprovokasi rekan-rekan kantor. Sejauh mana aku membela diri, semakin jauh pula mereka mencari-cari alasan sehingga aku seperti layaknya benar-benar tersangka.

Jumat, 28 Februari 2014

Ngeri Jadi Syi’i


Ini kisahku sekitar tujuh tahun yang lalu,
Di waktu sedang semangat-semangatnya mencari keilmuan Islam, beberapa pergerakan keislaman yang pernah saya ikuti memiliki sebutan khusus untuk para pengikutnya. Seperti syabab sebutan untuk pengikut Hizbut Tahrir. Saya pun pernah menjadi syi’i, sebutan untuk pengikut ajaran syiah.

Berangkat dari rasa keingintahuan dan amanah ibunda, saya ikut dalam beberapa pengajian rutin syiah bersama ayah yang sudah lebih dulu menjadi syi’i. Padahal saat itu saya pun tengah mencoba aktif menjadi seorang syabab bersama beberapa teman Hizbut Tahrir, banyak dari mereka yang melarang dan mewanti-wanti agar saya berhati-hati. Tapi itu malah membuat saya makin penasaran akan ajaran syiah itu sendiri.

Kurang lebih dua tahun saya mengikuti pengajian dan acara-acara syiah, mulai dari perayaan asyuro di Bandung dan Jakarta, hingga ritual malam nisfu syaban di ICC Warung Buncit pun pernah saya ikuti. Sampai-sampai saya pun pernah diberi beasiswa S1 dari mereka, pada Islamic College for Advanced Studies Paramadina Jakarta. Dan saya lolos seleksi hingga sempat kuliah di fakultas filsafat pada institusi itu meski hanya satu tahun.

Sebelumnya saya kurang banyak mengatahui kenapa syiah dianggap sebagai aliran sesat. Awalnya yang saya mengerti adalah bahwa mereka sekumpulan orang yang mengajarkan kearifan dan kebijaksanaan ilmu dari gudang ilmu yang di miliki Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Sapintas jika berdiskusi dengan syi’i yang sudah lama, mereka seolah memiliki gaya bahasa yang cerdas dan penjabaran yang logis. Namun dibalik itu, ternyata tidak semua kerang dalam lautan samudera berisi mutiara. Yang ini isinya malah kotoran berkerak yang di amini selama beberapa abad hingga tumbuh subur menjamur.

Saat saya mengikuti perayaan asyuro pertama kali di Bandung kalo gak salah sekitar tahun 2006 lalu, sempat kaget juga karena melihat banyaknya syi’i yang berkumpul. Saya kira tadinya ajaran ini hanya terbatas kalangan tertentu dan hanya diikuti sedikit orang, tapi ternyata tidak. Paling tidak, kurang lebih sekitar 150 orang memadati acara tersebut. Dengan pakaian serba hitam, ada pula yang ditambah corak warna merah darah bertulis arab Labbaika ya Husain.

Kamis, 16 Januari 2014

Beginilah Kalo Pemimpin Gak Ngaji

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah,”Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia. Tapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya…” (QS. Al Baqarah: 219)

Pada tanggal 6 Desember 2013 yang lalu telah dikeluarkan Perpres No. 74 tahun 2013 tentang Pengendalian dan Pengawasan Minuman Beralkohol, yang ditandatangani langsung oleh Presiden. Di dalam nya termaktub pengklasifikasian minuman beralkohol menjadi tiga jenis, sesuai dengan besaran kadar alkohol yang dikandungnya. Sayangnya, ketiga jenis minuman alkohol tersebut masih bisa ditemui pada tempat-tempat tertentu.

Walaupun konteks nya harus memenuhi persyaratan, namun peraturan “pengendalian” ini lebih condong pada pelegalisasian ilegal. Kenapa ? karena masih terdapat potensi negosiasi antara pemangku kebijakan daerah (Bupati/Walikota) dengan para pengusaha miras. Apalagi hal ini seolah menjadi sah ketika penetapan pembatasan pengedaran miras dikembalikan kepada Bupati/Walikota/Gubernur sesuai karakteristik budaya lokal setempat.

Anas r.a. berkata, "Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. telah melaknat 10 orang yang berkaitan dengan arak; pembuatnya, pengedarnya, peminumnya, pembawanya, pengirimnya, penuangnya, penjualnya, pemakan hasilnya, pembayarnya dan pemesannya." (Riwayat al-Tirmizi no 1295, Abu Daud no 3674, Ibn Majah no 3381 dan Ahmad no 316)

Selasa, 24 Desember 2013

Siapa Bilang Golput Gak Boleh !

Mau golput ? silahkan saja,
Toh di Indonesia ini kan hak asasi di junjung tinggi, dan golput adalah salah satu bagian dari hak asasi manusia juga. Jadi sah-sah aja kalo dalam pemilihan calon presiden pun ada yang golput, itu hak masyarakat.

Mau golput ? silahkan saja,
Karena golput juga kan merupakan pilihan bagi mereka yang kurang pede bahwa perubahan kebaikan akan muncul bersama usaha pengubahan keadaan buruk itu sendiri. Selama tidak ada usaha untuk mengubah kerusakan-kerusakan di pemerintahan, maka selamanya pemerintahan akan tetap rusak. Dan golput adalah bagian yang ikut menyumbang kerusakan kelakuan pemerintah.

Mau golput ? silahkan saja,
Tapi tau gak, di negara Suriah sana ketika yang berkuasa adalah orang yang mementingkan hajat kelompok dan ajaran nya, mereka dengan tega membunuh orang-orang di luar kalangan mereka. Denger-denger sih mereka islam juga tapi beda paham gitu, jadi masyarakat yang gak sepaham dibuat menderita bahkan di siksa. Gak beda jauh lah sama di Iran sana, masyarakat sunni terus di intimidasi oleh pemerintahan syiah.

Kamis, 12 Desember 2013

Wasilah Itu Bernama Bendera

Pada awal tahun ke-8 Hijriyah, Rasululalh SAW menyiapkan pasukan tentara untuk memerangi tentara Romawi di Muktah. Beliau mengangkat Zaid bin Haritsah menjadi komandan pasukan. Rasulullah berpesan, "Jika Zaid tewas atau cidera, komandan digantikan Ja’far bin Abi Thalib. Seandainya Ja’far tewas atau cidera pula, dia digantikan Abdullah bin Rawahah. Dan apabila Abdullah bin Rawahah cidera atau gugur pula, hendaklah kaum muslimin memilih pemimpin/komandan di antara mereka."

Setelah sampai di Muktah, terjadilah pertempuran yang tidak seimbang, antara tentara Romawi dengan kekuatan 100.000 pasukan inti yang terlatih berhadapan tentara kaum Muslimin yang hanya berkekuatan 3.000 pasukan di bawah pimpinan Zaid bin Haritsah.

Dalam pertempuran itu ketika Zaid gugur sebagai syahid, Ja’far segera menyambar bendera Rasulullah sebagai tanda kepemimpinan kini ada padanya. Begitupun saat satu per satu tangan Ja’far putus ditebas musuh hingga syahid, secepat kilat Abdullah bin Rawahah merebut bendera komando dan melanjutkan pertempuran. Walaupun pada akhirnya beliau pun syahid di medan jihad, menyusul dua sahabat nya yang lain.

Rabu, 28 Agustus 2013

FITNAH DAN DARAH

Rabiah adawiyah, saat Ramadhan 1434 Hijriyyah

tercatat sudah dalam sejarah
demokrasi di khianati hak asasi
saat Mesir terpimpin DR. Moursiy
saat para pengkhianat lakukan kudeta
saat dunia dibuat buta berita

taukah di Rabiah adawiyyah sana,
saat presiden yang sah terpilih dikudeta
di culik dan di sandera junta-junta durjana
rakyat Mesir berdemo damai hingga takbir menggema
memenuhi rongga-rongga nafas kota

disana,
tak ada yang hendak mereka pinta
selain pengembalian presiden pada posisi yang semestinya
tak ada yang mereka bawa
selain Al-Quran penenteram jiwa
bukan senjata

Selasa, 26 Maret 2013

Saya Bangga Membenci PKS


Bagi saya politik itu kotor, kejam, menghalalkan segala cara dan jauh dari kebaikan. Anggapan itu saya dapat ketika masih sekolah. Dalam pandangan saya mereka yang terlibat dikancah perpolitikan, sudah pasti akan melakukan berbagai cara agar berhasil meraih suara demi pemimpin-pemimpin mereka.

Apalagi jika hal itu dibalut dengan embel-embel agama, rasanya tidak pantas kemurnian ajaran agama harus disandingkan dengan perpolitikan yang penuh intrik. 
Seperti beberapa partai politik yang mengatasnamakan agama, mengatasnamakan dakwah.

Yang paling terlihat penyandangan lebel agama, ternyata ada pada PKS. Yang menamakan partai islam, partai dakwah. Yang juga katanya di dalamnya ada pembinaan yang lain dari pada partai lainnya. Hal ini membuat saya makin membenci perpolitikan dalam negeri. 

Sampai sejak saya berhak memilih dalam suatu pemilihan, saya tidak pernah datang mencoblos. Karena bagi saya semua partai sama saja, sama-sama buaya pemerintahan yang kan mencaplok mangsanya ketika sudah dipercaya.

Sabtu, 23 Maret 2013

Mari Belajar Bijak Memimpin


Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian cintai dan mereka juga mencintai kalian, kalian mendoakan kebaikan untuk mereka dan mereka juga mendoakan kebaikan untuk kalian. Dan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah yang kalian benci dan mereka juga membenci kalian, kalian melaknat mereka dan mereka juga melaknat kalian. Kami bertanya, “Wahai Rasulullâh, tidakkah kita melawan mereka dalam keadaan demikian.” Beliau  menjawab, “Tidak, sepanjang mereka masih menegakkan sholat. Ingatlah, siapa yang dipimpin oleh seorang pemimpin lalu ia melihatnya melakukan sesuatu dari kemaksiatan kepada Allah, maka handaknya ia benci kepada maksiat yang dia lakukan dan jangan sekali-kali membatalkan ketaatan kalian kepada mereka. (Hadits ‘Auf bin Mâlik radhiyallâhu ‘anhu dalam riwayat Muslim)

Memimpin sebenarnya adalah seni mencintai yang meliputi kekuatan sabar mendengarkan, ketajaman hati dalam memahami yang kesemuanya harus terimplikasi dalam kebijaksanaan untuk menyejahterakan. Untuk itu hanya orang-orang tangguh berjiwa besar yang akan mampu berkuasa bersama cinta.



Karena memimpin berarti mencintai, maka menurut M. Anis Matta, Lc dalam Serial Cinta-nya; cinta mengajarkan kita untuk memperoleh hak-hak kita dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban kita kepada orang lain. Itulah yang mempertemukan dua kutub jiwa. Pertemuan itulah yang membuat kita genap-menggenapi, dan saling menyempurnakan karya kehidupan. Jadi bukan karena cinta buta penuh ambisi dengan menghalalkan segala cara yang seharusnya diterapkan pemimpin sejati, tapi cinta yang membersamakan rasa pemahaman.

Sejarah pernah mencatat kearifan seorang pemimpin sejati di zaman sahabat nabi, dialah Umar Bin Khatab. Seorang khalifah yang pernah memanggul karung makanan dengan pundaknya sendiri untuk diberikan pada salah satu rakyatnya yang kelaparan. Begitulah jalan cinta mengajarkan seorang pemimpin, agar sabar mendengar lalu dengan nurani melangkah memahami.

Minggu, 17 Maret 2013

Dari Kalam Murobi


Teringat kalam murrobi beberapa pekan ke belakang, dia menceritakan hikmah kebijaksanaan. Tentang seorang janda tukang tenun yang mempunyai banyak anak pada zaman Nabi Daud. Sepeninggalan suami tercinta, dia berusaha membuat kain selama beberapa hari untuk kemudian di jual di pasar. Besar harapannya agar kain itu nantinya segera terjual, agar dia dan anak-anaknya bisa makan. Sambil menyelesaikan pekerjaannya, dalam hati kecilnya dia mengeluh pada Allah perihal pahitnya hidup yang dijalani. Sampai pada saat kain itu jadi, dan harus segera di jual.

Ketika janda itu bersama anak-anaknya pergi ke pasar hendak menjual kain tersebut, di tengah jalan datanglah seekor burung yang dengan tiba-tiba mengambil kain itu lalu membawanya pergi. Serta merta mereka terkejut dan berusaha mengambilnya kembali. Tapi burung itu sudah jauh meninggalkan mereka.

Janda itu membuncah rasa dan mengeluh bahkan sampai menyalahi Allah dengan berkata;

“Allah tidak adil…… Allah tidak adil…… “

Kemudian janda tadi akhirnya pergi menemui Nabi Daud dan mengadukan semua kejadian itu dengan mulut yang masih mengutuk burung yang membawa kainnya pergi. Juga menyalahi Allah yang menurutnya tidak adil.

Syukron Ray, Terima Kasih Re

  Syukron Ray, 11 tahun yang indah sudah jadi bayangan kenangan yang tak bisa diulang. Saat ini waktu selama itu ternyata seolah hanya mim...